Jumat, 30 Oktober 2015

Sebuah Simfoni



Sebuah Simfoni
Karya Aulia Fadlilah

            Hari itu, sang raja siang berada tepat di bawah kepalanya. Bahkan mungkin bila sebuah telur diletakkan di atas kepalanya pasti akan matang. Hari itu benar – benar panas. Dengan menggendong ransel besar yang berisi buku – buku pelajarannya, Anna berjalan dari gerbang sekolahnya menuju tempat parkir sepedanya. Anna yang bertubuh tinggi kurus menggendong ransel besarnya hingga terlihat seperti membungkuk. Ya Tuhan lihatlah, persis seperti kura kura ninja.
            “Paman, ini uang parkirnya” Anna mengulurkan tangannya dan memberikan uang logam Rp500,- pada paman tukang parkir. “Terimakasih nona” jawab si paman. Anna pun menuntun sepedanya keluar dari area parkir. Dia lalu menaikinya. Baru beberapa meter dia mengayuh sepedanya, tiba – tiba dia turun dari sepedanya. Ada yang aneh dari sepedanya. Anna terkejut melihat ban sepedanya yang tak berisi, sama seperti tubuhnya yang kurus tak berisi. “Yah, kempes. Aduh, bagaimana ini?”. Dengan pasrah Anna menuntun sepedanya. Padahal masih ada 400 meter jalan aspal lagi yang harus dilaluinya. Anna celingukkan. Melihat kesana kemari. Matanya berputar – putar menacari sesuatu. Tidak ada pompa atau bengkel sepeda apalagi malaikat penolong di sekitarnya. Sepi sekali. Anna menghela nafas panjang. “Ya sudahlah”  gumamya dalam hati.
            “Assalamu’alaikum. Ibu, aku pulang” ucap Anna saat memencet bel pintu gerbang rumahnya. “Wa’alaikumsalam. Kenapa cemberut begitu?” tanya ibunya. Anna hanya diam. Ibunya pun langsung tahu saat melihat ban sepeda Anna. “Ya sudah. Berikan sepedamu pada ibu, biar ibu bawakan ke bengkel. Pergilah masuk. Ibu sudah siapkan makan siangmu di meja makan. Bekalmu hari ini habis tidak?” tanya ibunya sambil memegang sepeda Anna. Anna hanya mengangguk. Tanda bahwa bekalnya hari ini sudah habis dilahapnya di sekolah. Anna langsung masuk ke rumahnya. Ibunya langsung pergi membawa sepeda Anna ke bengkel yang letaknya lumayan jauh dari rumah.
            “Kakak sudah pulang?  Kakak sudah sholat? Setelah makan siang kakak sibuk tidak? Kakak bisa kan membantu PR matematikaku? Hey, wajah kakak aneh. Kenapa kakak diam saja? Apa kakak sakit? Ya sudahlah. Sepertinya kakak lelah. Aku benar tidak?” Jihan langsung menghujani kakaknya dengan beribu – ribu pertanyaan. Seperti penyidik KPK yang sedang mengintrogasi para koruptor. Padahal saat itu Anna baru saja menarik satu buah tali sepatu sebelah kirinya. “Jihan, bisa tidak kalau mengerjakan PR-nya nanti malam saja. Sekalian belajar dengan kakak. Kakak mau istirahat dulu” jawab Anna. “Emmm, baiklah. Tapi janji ya akan mengajariku?” balas Jihan sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “OK” jawab Anna singkat sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Jihan. Yes, gumam Jihan dalam hati.
            Anna menuju kamarnya. Jihan mengikutinya dari belakang sambil membawakan tas Anna. Mungkin Anna lupa membawa tasnya. “Ya ampun, berat sekali. Mungkin kelerengku ada di dalam sini. Pasti kakak menyembunyikannya disini” ucap Jihan sambil membuka tas Anna. “Oh, tidak ada. Jadi diamana sebenarnya kelerengku?” Jihan kecewa setelah membuka tas Anna.
            Setelah sholat, Anna menuju meja makan. Tak lama ibunya pun pulang. “Assalamu’alaikum” ucap ibunya. “Wa’alaikumsalam” jawab Jihan. “Cepat sekali bu”. “Iya, tadi langsung diperbaiki oleh paman Dani. Kakakmu mana?”. “Itu, sedang makan. Bu, wajah kakak aneh. Tidak seperti biasanya” Jihan mengadu pada ibunya perihal kakaknya. “Kenapa?” tanya ibunya. “Entahlah. Mungkin kakak sakit” jawab Jihan singkat. Ibunya langsung menghampiri Anna di meja makan. “Anna, kau kenapa?” tanya ibu. “Ah, tidak bu. Tidak apa – apa. Ibu sudah selesai. Cepat sekali. Maaf ya bu, sudah menyusahkan ibu. Sebenarnya aku bisa membawa sendiri sepedanya ke bengkel. Maaf bu” jawab Anna. “Iya, tidak apa – apa. Jadi kenapa kau sebenarnya?” ibunya kembali mengulang pertayaannya. “Tidak bu, aku hanya kesal karena ban sepedaku kempes. Benar bu, memangnya apa yang harus ku khawatirkan di dunia ini? Aku punya ibu yang sehat, adik yang cerewet, dan ayah yang…” Anna tak melanjutkan kalimatnya. “Ada apa dengan Ayah?” tanya ibunya. “Ayah yang sangat jarang bersama kita” jawab Anna ketus. “Hey, ayahmu kan sedang bertugas disana. Lagipula beliau kan bekerja untukmu. Kau ini kenapa?”. “Tidak bu. Ya sudahlah” jawab Anna singkat. Anna kembali melanjutkan makan siangnya.
            Selesai makan siang, Anna melanjutkan kebiasaannya. Menonton drama korea. Kali ini berbeda. Jika biasanya Anna akan mengagumi para aktor atau aktris drama koreanya, kali ini tidak. Dia justru mengagumi hal lain. “Lihatlah mereka, benar – benar keren” ucap Anna saat menonton drama korea itu.
            Malam ini Anna tak seperti biasanya. Tak langsung memejamkan matanya. Pertunjukkan yang ia lihat dalam drama korea itu telah memenuhi isi kepalanya. Bahkan jarum pendek jam sudah melewati angka sebelas, dia masih asyik memandangi langit – langit kamarnya. Mencoba berbicara dengan cicak – cicak di dinding. “Kira – kira seperti apa susunannya ya? Aku harus mencari tahu. Mungkin suatu hari nanti aku bisa seperti mereka. Bantu aku Tuhan” gumam Anna dalam hati.
            Hari ini masih sama seperti hari kemarin. Panas. Mungkin kali ini tabung gas elpiji yang akan meledak berikutnya. Beruntung kepala Anna terlindungi oleh jilbabnya. Benar – benar panas. Seperti biasa, setelah bel pulang, Anna menuju tempat parkir sepedanya. Anna merogoh saku roknya, “Ini uangnya paman”. “Terimakasih nona”, jawab paman si tukang parkir. Kali ini Anna tidak langsung pulang ke rumah. Ada tempat yang harus ia singgahi terlebih dahulu. Juga benda yang sedari kemarin terus mengganggu pikirannya, ia mungkin akan mendapatkannya hari ini.
            Anna mengayuh sepedanya menuju sebuah toko yang lumayan jauh dari sekolahnya. Setelah sampai, Anna memperhatikan lamat – lamat toko itu. Ia pun kembali merogoh saku roknya.  “Kira – kira uangnya cukup tidak ya?” gumam Anna. Ia pun melangkah memasuki toko tersebut. Matanya berputar – putar mencari sesuatu dan setelah sekian lama akhirnya berhenti tepat di depan sebuah benda yang dari semalam ia ceritakan pada langit – langit kamarnya. Ia pun langsung membawanya ke kasir. “Paman, ini harganya berapa?” tanya Anna pada penjaga kasir. “Itu harganya Rp 200.000,-. Ada yang mau dibeli lagi?”. Anna terdiam sejenak. Kembali ia hitung uang dalam saku roknya. “Tidak, ini saja paman” Anna memberikan uang sejumlah Rp 200.000,- pada penjaga kasir itu. “Terimakasih nona. Datanglah kembali”. Anna hanya nyengir pada paman itu. “Sekarang uangku sudah habis. Tapi untung saja cukup. Terimakasih Tuhan. Kau akan mengantarku menuju panggung itu mulai sekarang. Setialah padaku. Buat aku menjadi seperti Maestro Kim. Ok?” gumam Anna pada ‘mainan’ barunya itu. “Oh tidak, sudah jam 4 sekarang. Aku akan terlambat sampai rumah” Anna buru – buru menyambar sepedanya dan mengayuhnya secepat kilat.
            “Assalamu’alaikum. Ibu aku pulang” ucap Anna saat memencet bel pintu gerbang rumahnya. “Wa’alaikumsalam. Hey, jam berapa ini? Kenapa baru pulang? Kemana kau pergi tadi?” Ibunya langsung mengintrogasi Anna. “Ibu maaf. Aku lupa memberitahu ibu. Ponsel ku mati karena low bat. Aku tadi pergi ke kota sebentar”. “Untuk apa?”. “Ini, aku membeli biola” jawab Anna sambil memperlihatkan biola yang barusan ia beli tadi. “Untuk apa benda ini kau beli?” tanya ibunya bernada marah. “Ibu ku mohon. Dengarkan aku dulu. Apa ibu mau kita berbicara disini. Lagipula aku belum shalat dan makan siang. Ku mohon ibu jangan marah dulu. Biarkan aku masuk” Anna mencoba meyakinkan ibuya. Melihat wajah putrinya, ibu Anna menjadi iba. Hah, tentu saja. “Ya sudah masuklah. Makan lalu shalat. Setelah itu, jelaskan kembali pada ibu”. “Ibu terimakasih. Aku mencintaimu” jawab Anna dengan wajah sumringah sambil mencium pipi ibunya. Ibunya pun meleleh.
            Setelah shalat dan makan siang, Anna bergegas menemui ibunya yang sudah duduk menunggunya di sofa ruang keluarga. “Ibu, hidupakan dulu TV nya”. “Haruskah?” tanya ibunya. “Iya tentu”. Ibunya pun menghidupkan TV. “Bukan berita yang akan kita tonton bu” Anna langsung merebut remot TV yang dipegang ibunya. “Hey, sebenarnya apa yang akan kau jelaskan?” Ibu Anna mulai tak sabar. Anna pun mengganti channel TV-nya dengan serial drama korea yang selalu ia tonton bersama ibunya setiap sore. “Ibu, coba lihat Maestro Kim. Dia keren kan?” tanya Anna pada Ibunya. Ibunya mengernyitkan dahi. “Apanya yang keren?” gumam ibunya. “Ibu jangan begitu. Lihat dulu. Mereka itu mengagumkan kan?” tanya Anna sambil menunjuk – nunjuk TV nya. “Biasa saja” jawab ibunya sambil memanyunkan bibir. “Ah, baiklah. Langsung saja kalau begitu. Jadi begini bu…” Anna mulai sedikit kesal. Ia pun tampak gugup. “Biola ini ku beli karena aku ingin menjadi seperti Maestro Kim”. Sontak saja mata ibunya mendadak seperti akan jatuh ke lantai. “Tidak!” jawab ibunya bernada membentak. “Ayolah bu. Ibu jangan khawatir. Aku janji aku akan tetap belajar serius dan masuk perguruan tinggi negeri. Lalu menjadi Enginering Petroleum Expert. Aku janji bu. Tapi kali ini, ini hanya obsesi sesaatku saja. Hanya sesaat. Bukan cita – citaku yang sesunggunya. Ayolah bu, ku mohon” jelas Anna panjang lebar pada ibunya sambil berlutut di bawah kaki ibunya. “Benar ini hanya sesaat?” tanya ibunya. “Iya bu, aku janji” jawab Anna memelas. “Baiklah, kita lihat ke depannya seperti apa”. “Benar bu? Yes!” jawab Anna sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. “Ibu tenang saja. Aku akan tetap fokus belajar. Oh iya bu, mulai besok aku dan La Vida akan ke gedung Harmoni untuk memulai latihan. Ini hanya sebentar bu, setelah itu aku akan focus belajar lagi untuk masuk PTN. Doakan aku ya bu”. “Tentu”. Ibunya tersenyum sambil mengelus - elus kepala Anna. “Ibu terimakasih. Aku mencintaimu”. Anna mencium pipi ibunya lagi. Ibunya pun nyengir lagi.
***
            “Anna!” La Vida melambaikan tangannya pada Anna. “Hey! Tunggu aku!” balas Anna. “Kita jadi kan pergi ke gedung Harmoni?” tanya La Vida. “Tentu sobat” jawab Anna sambil tersenyum pada sahabat karibnya itu. Keduanya pun langsung mengayuh sepeda mereka menuju gedung Harmoni. Cukup dekat dari sekolah mereka.
            “Kita sudah sampai” ucap La Vida saat akan memarkirkan sepedanya. “Wah, keren sekali ya. Aku belum pernah ke sini” ucap Anna saat melihat gedung musikal itu. “Tentu saja. Banyak Maestro terkenal yang sudah sangat sering melakukan orkes simfoni disini. Kira – kira siapa yang akan menjadi komposer kita nanti ya?” tanya La Vida. “Umm, mungkin Addie MS” jawab Anna seenaknya. “Hush, kau ini” balas La Vida. Mereka pun tertawa. Sesaat kemudian mereka melangkah masuk ke gedung itu.
            “Panggilan ditujukan kepada Anna Az-Zahra dan La Vida Teresiana siswa dari SMU Taruna Nusantara agar segera memasuki ruangan Guru Tom di lantai 4 nomor 28 sekarang juga. Terimakasih” sebuah pengumuman ditujukan pada Anna dan La Vida. “Hey, nama kita sudah dipanggil. Ayo cepat naik!” ajak La Vida. “OK” jawab Anna.
            Mereka pun sampai di depan ruangan guru Tom. “Masuk” ucap guru Tom. Mereka membuka pintu dan melangkah masuk. “Tidakkah kalian tahu kalian berada dimana sekarang?” pertanyaan awal dari guru Tom untuk kedua sahabat itu. “Iya guru” jawab mereka serempak. “Dimana?” tanya guru Tom seperempat membentak. Anna tersentak kaget. Ya Tuhan lihatlah ekspresi wajahnya, pucat seketika. “Tahukah kalian bahwa gedung ini adalah gedung terhebat di kota ini? Gedung dimana para komposer ternama nasional sering mengadakan orkes simfoni disini. Kalian tahu tidak?”. “Alien dari planet mana mahluk gila ini?” gumam Anna dalam hati. “Iya guru kami tahu” jawab La Vida. “Hey, kau. Kenapa kau hanya mematung disitu?” tanya guru Tom sambil menunjuk Anna yang sudah sedari tadi sempurna membeku saat pertamakali melihat guru Tom. “I iya guru. Maaf” jawab Anna dengan bibirnya yang gemetaran. “Aku tidak suka jika terlalu sering mendengar kata maaf. Pertanda jika kau terlalu sering berbuat kesalahan”. “Bu bukan begitu guru” jawab Anna yang sekarang hampir menangis. “Ah sudahlah. Kalian hanya menghabis habiskan waktuku saja. Namamu!” tanya guru Tom sambil menunjuk gadis berambut panjang yang dikepang dua di depannya itu. “La Vida Teresiana guru” jawab La Vida. “Dan kau?” kini giliran Anna yang ia tunjuk. “Anna Az-Zahra guru” jawab Anna. “Baikalah, kita mulai sekarang. Keluarkan alat music kalian”. Guru Tom berjalan mendekati Anna. Anna keringat dingin. “Coba kau mainkan biolamu” perintah guru Tom untuk Anna. Anna mulai memainkan biolanya. Jika didengarkan, mungkin selaput gendang telinga kita akan pecah. “Permainan biolamu sangat buruk. Kau perlu banyak latihan” ujar guru Tom. “Iya guru” jawab Anna sambil menunduk. “Baiklah hari ini kita akan belajar tentang music klasik untuk permulaannya. Siapa yang tak kenal dengan W.A Mozart? Jika ada, silahkan angkat kaki dari kelas ini melalui jendela itu” guru Tom memulai pelajaran sambil menunjuk ke luar jendela ruang kelasnya. Tentu saja murid - muridnya itu tak terkecuali Anna dan La Vida bergidik sambil mengangkat bahu mereka. Ya itulah  guru Tom, sang komposer killer. Sebuah babak baru telah dimulai. Berjalan menuju kehidupan Anna.
            “Mahluk itu mengerikan sekali” ucap Anna saat mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir. “Hey, sudahlah. Tak apa. Mungkin itu hanya perkenalan dari guru Tom. Kau jangan begitu Anna. Fighting!” balas La Vida untuk menyemangati Anna sambil mengacungkan tangannya ke atas. “Heemm” Anna hanya menghela nafas sambil tertunduk.
            Hari kedua latihan orkes simfoni. Kali ini Anna berbeda. Mungkin ia sudah diberi jimat dari ibunya. “Kita lihat guru Tom” gumam Anna dalam hati.
            “Kalian tahu tidak music klasik itu adalah music para Aristokrat?” Guru Tom memulai pelajaran. “Siapa bilang?” gumam Anna dalam hati. “Coba lihat, W.A Mozart, kalian tahu kan dia berasal dari keturunan bangsawan? Tentu saja, sejarah tak akan pernah lupa padanya. Komposer terhebat di dunia yang karya - karya musiknya amat sangat berpengaruh. Bahkan kalian bisa tanya ibu kalian di rumah. Kalian bisa memiliki IQ yang tinggi, pandai dalam ilmu eksakta itu pasti dikarenakan ibu kalian dulu saat mengandung kalian selalu mendengarkan music klasik. Berterima kasihlah kalian pada Mozart” ucap guru Tom menjelaskan. “Ya ampun, dia ini guru music atau guru sejarah?” gumam Anna. “Mozart memang terkenal, komposer terhebat sepanjang sejarah dari barat. Tapi kepintaranku bukan buah dari karya karya music klasiknya yang sangat misterius itu. Padahal itu hanya mitos, yang membuatku pintar itu ya hanya ayat – ayat Al-Qur’an yang tiap hari kudengar dan kubaca. Dasar bodoh. Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi guru gila ini” doa Anna dalam hati.
            “Kita sekarang akan memainkan music dari Mozart yaitu Symphoni No. 41 in C Major K.551 Jupiter Menuetto Allegro 1. Tapi sebelumnya aku akan membagi para pemain instrumentnya. Anna, ku kira kau bisa untuk biola. Kau hanya perlu latihan lebih keras lagi. Ingat, jangan permalukan aku di atas panggung nanti” guru Tom menunjuk Anna untuk bermain biola. Anna mengangguk mantap. “Ya Tuhan, benarkah ini? Aku akan memainkan biola? Guru Tom mempercayakannya padaku? Terimakasih Tuhan” gumam Anna dalam hati. Kali ini banyak bunga bunga papaya berserakan di hatinya. “Terimakasih Guru!” ucap Anna pada guru Tom. Guru Tom hanya mengangguk sambil tersenyum. “Oh, manisnya” gumam Anna dalam hati. Ada sesuatu yang membius dirinya hari ini. Entahlah. La Vida menyenggol tubuh Anna sambil nyengir. “Cie cie” bisik La Vida pada Anna. “Diamlah” balas Anna. Wajahnya memerah. Mungkin ia lupa membalik telur gorengnya di wajan.
            “Assalamu’alaikum. Ibu aku pulang”. “Wa’alaikumsalam. Hey, wajahmu aneh. Kenapa?” ibunya terheran heran melihat mimic muka Anna. “Ah. Tidak apa – apa bu. Ibu tahu tidak? Aku terpilih untuk bermain biola di orkes simfoni nanti” ucap Anna kegirangan. “Benarkah?” mata ibunya pun terbelalak. “Iya bu. Ibu senang kan? Pokoknya nanti ibu dan Jihan harus melihat pertunjukanku. Harus” ucap Anna sambil memegangi tangan ibunya. “Tentu sayang. Ayahmu juga” balas ibunya sambil tersenyum. Tapi seketika mata Anna menjadi sayu dari yang tadinya bola matanya hampir loncat dari kelopak matanya. Itu karena ibunya menyebut ayahnya. “Sudahlah bu. Jangan pernah memaksa Ayah. Biarkan dia untuk focus mengumpulkan dolar dolar itu. Aku tak apa. Ibu jangan terlalu berharap” ucap Anna sambil menunduk. “Anna ibu mohon jangan begitu” ibunya memohon pada Anna. “Jangan ganggu aku dulu bu. Aku lelah setelah seharian penuh latihan untuk orkesku. Aku ingin istirahat dulu” Anna pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang masih terdiam di pintu gerbang.
            Setelah sampai kamar, Anna langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur busanya. “Huh, haruskah dia ikut? Cukup bagiku ibu dan Jihan saja untuk melihat pertunjukanku di orkes simfoni nanti. Ayah oh ayah. Tidakkah kau merindukanku? Cukupkah bagimu bertemu dengan anak dan istrimu hanya 2 kali dalam setahun? Kau tahu betapa aku ingin sekali kau antar aku dan Jihan ke sekolah tiap pagi? Mengambilkan raportku saat akhir semester. Pergi ke danau bersama untuk mencari ikan. Tidakkah kau ingin bisa selalu mengantar ibu setiap hari untuk pergi ke pasar? Tidakkah kau khawatir saat aku memasang regulator kompor gas? Harusnya itu kau Ayah. Bukan aku” ucap Anna dalam hati.
            Bulan ketiga latihan. Anna semakin mantap dengan kemampuan bermain biolanya. Begitu juga La Vida. Ia juga semakin mantap akan posisinya untuk memegang bass clarinet. Semakin hari semakin menegangkan saja. Semakin dekat hari pertunjukan itu. Jantung Anna seperti siap akan meledak. “Baiklah. Kita sudah 3 bulan berlatih. Dalam sejarahku melatih orkes simfoni, kalianlah yang paling lama berlatih. Tapi tak apa. Justru semakin lama kalian berlatih, maka akan semakin hebat kemampuan kalian. Ingat! Jangan pernah permalukan aku nanti di panggung. Hari ini kita hanya akan gladi bersih. Tinggal tujuh hari lagi dari sekarang. Itu bukan waktu yang lama. Jangan pernah merasa minder apalagi sampai demam panggung. Itu akan meruntuhkan akal pikiran kalian. Terutama kau Anna. Jangan pernah membawa urusan pribadimu ke atas panggung nanti. Aku berharap besar padamu. Ingat itu baik – baik!” nasihat guru Tom untuk muridnya, terutama pada Anna. “Aye aye Kapten!” jawab mereka serempak dengan bahasa belanda asal jadi itu. Anna menghela nafas panjang. “Fighting!” ucapnya dalam hati untuk menyemangati dirinya. “Anna, kita pasti bisa kan?” tanya La Vida. “Tentu sobat. Guru Tom sudah sangat baik pada kita selama ini. Aku salah besar padanya. Aku tak akan mengecewakan guru Tom. Juga untuk ibuku dan Jihan. Tuhan bantu aku” balas Anna sambil berdoa. “Ayahmu juga Anna” La Vida mengingatkan Anna. Anna hanya terdiam. Tertunduk dan termangu. Anna sangat kaku akan semua hal tentang ayahnya. Berubahlah Anna.
            Tujuh hari itu ternyata bukan waktu yang panjang. Jarum jam menunjukkan pukul 2. Anna terbangun. Ia ke kamar mandi untuk berwudhu. Tuhan, bantu aku. Mudahkanlah urusanku hari ini. Aku mohon. Ucap Anna sambil duduk menengadahkan kedua tangannya di atas sajadah merahnya.
            “Ibu, Jihan. Jangan lupa ya. Jangan terlambat. Doakan aku!” ucap Anna saat duduk di meja makan untuk sarapan. “Pasti kak. Jihan dan ibu nanti akan duduk paling depan untuk melihat wajah kakak agar terlihat jelas. Ya kan bu? Oh iya bu. Ngomong ngomong Ayah nanti duduk di kursi nomor berapa? Ayah akan duduk disamping kita kan? Ayah sudah punya tiketnya belum? Kira kira jam berapa ayah akan sampai di gedung?” kebiasaan Jihan yang selalu menghujani dengan beribu ribu pertanyaan bila bertanya. Dan seketika Anna meletakkan sendok makannya. Selera makannya hilang terbang besama amarahnya pada Ayahnya. “Ibu aku pergi duluan. Assalamu’alaikum” Anna pamitan pada ibunya sambil mencium tangan ibunya. “Wa’alaikumsalam nak. Ibu selalu mendoakanmu. Semangat sayang. Ibu mencintaimu” balas ibunya sembari beridiri untuk mengantar Anna ke depan pintu gerbang rumah mereka. Anna pun mengayuh sepeda birunya. Bukan senyum yang terukir di bibirnya. Hanya raut murung yang terlihat. “Datang atau tak datang tak ada pengaruhnya untukku. Terserah, silahkan. Orkes simfoniku bukanlah hal yang penting baginya. Masa bodoh!” gumam Anna dalam hati. Hatinya telah diselimuti oleh berjuta juta kedongkolan dari ayahnya. Tetap semangat Anna!
            “Kau sudah siap?” tanya La Vida mengawali percakapan pagi ini. “Tentu La Vida. Hey, seragam ini. Lihatlah. Sungguh keren!” balas Anna. “Iya Anna. Inilah seragam yang kuidam idamkan selama ini. Hari ini kita memakainya Anna! Benar – benar hebat bukan?” ucap La Vida kegirangan bukan main. “Ya walaupun sekarang aku hanya bisa bermain biola. Tapi aku sangat senang. Impianku sekarang terwujud untuk dapat ikut dalam orkes simfoni. Tapi aku akan berjuang lagi untuk menjadi seperti Maestro Kim. Kau percaya kan?” ucap Anna semangat. “Iya sobat. Aku percaya kau akan menjadi seperti Maestro Kim. Menjadi komposer terkenal. Dan ayahmu akan menyaksikan kesuksesanmu nanti. Percayalah Anna” balas La Vida. Lagi – lagi Anna menghela nafas panjang. “Kau tak jauh beda dengan Jihan. Kalian sama - sama menyebalkan” gumam Anna dalam hati.
            Tepat pukul 9 pagi. Gedung Harmoni telah dipenuhi oleh para penonton orkes simfoni. Orkes simfoni tahun ini berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Jika biasanya penonton akan datang melihat orkes simfoni untuk mendapatkan setfikat dan undian berhadiah, maka tahun ini mereka datang karena penasaran dengan sang komposer baru dari kota lain. Ialah Tom Hayward. Sang komposer killer, manusia perfeksionis dan tidak mau mengalah. Ujian dari Tuhan untuk Anna.
            “Ingat pesanku. Jangan permalukan aku di panggung nanti. Tetap tenang dan konsentrasi. Berjuanglah kalian semua murid – muridku” pesan guru Tom untuk para murinya hari ini. “Aye – aye Kapten!” jawab mereka serempak. Selang beberapa detik, mereka pun melangkah masuk atas panggung. Anna berjalan bersama La Vida. La Vida menggenggam tangan Anna yang begitu dingin dan basah karena keringat dingin. “Tenanglah Anna. Berkonsentrasilah” bisik La Vida pada Anna. Anna hanya mengangguk.
            “Aku tak percaya. Kita benar – benar di atas panggung ini sekarang. Hebat Anna!” ucap La Vida pada Anna. Anna tidak merespon. Ia celingukkan kesana kemari melihat ke arah kursi penonton. “Dimana Ibu dan Jihan?” gumamnya dalam hati.
            Tepuk tangan meriah dari para penonton memenuhi isi gedung saat guru Tom berjalan menaiki panggung. Guru Tom dan para pemain orkes simfoni berdiri lalu membungkuk untuk memberi hormat kepada para penonton. Sebelum orkes simfoni dimulai, guru Tom memberi kata sambutan sebagai pembuka acara. Tiba – tiba saja ponsel La Vida bergetar. Ada pesan masuk. Ia membacanya. “La Vida, tolong beri tahu Anna bahwa ibunya kecelakaan hari ini. Sekarang dirawat di rumah sakit. Terimakasih” begitulah bunyi pesan dari paman La Vida itu. La Vida bingung. Ia tak tahu harus memberitahukan pada Anna atau tidak. Anna pun tidak sengaja melihat La Vida yang sibuk dengan poselnya itu. La Vida tak seperti biasanya jika berhadapan dengan ponsel. Ia terlihat gugup. Anna pun mulai menaruh curiga. “Kenapa anak ini?” gumam Anna dalam hati. “Hey, kau kenapa? Apa yang kau lihat di ponselmua itu?” tanya Anna. La Vida hanya menggeleng. “Emm, tak apa Anna. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik – baik saja” balas La Vida gugup. Anna bisa merasakan sesuatu yang aneh dari mata La Vida. “Berikan ponselmu” ucap Anna. La Vida menggeleng. Anna pun merampasnya. Seketika itu juga ia membaca pesan masuk dari paman La Vida tadi. Bibir Anna yang tadinya masih terlihat merah, kini berubah pucat. Tangannya basah dan keringat dingin membasahi seragam kebanggaanya itu. “Aduh, bagaimana ini?” gumam La Vida dalam hati. Anna berdiri dari kursinya. Tapi tangan La Vida manariknya. “Tenanglah Anna. Ibumu sudah ditangani oleh para medis. Duduklah kembali” ucap La Vida. “Tidak, aku harus ke rumah sakit” jawab Anna. “Tapi kau bisa dapat masalah dari guru Tom” balas La Vida. Beruntung guru Tom belum siap memberikan kata sambutannya. “Aku tidak peduli. Akulah yang harus merawat ibuku. Bukan orang lain!” jawab Anna sambil melepaskan tangan La Vida. “Anna, tunggu!” teriak La Vida.
            Anna bergegas menemui guru Tom. “Guru, maafkan aku. Ibuku mendapat kecelakaan hari ini. Aku harus pergi melihatnya. Aku mohon, ijinkan aku guru. Aku janji, setelah selesai aku akan kembali kesini” ucap Anna pada guru Tom. Guru Tom terdiam sejenak. Menatap tajam bola mata memelas Anna. “Pergilah” jawab guru Tom. “Terimakasih guru” balas Anna sambil tersenyum. “Pergilah dan jangan kembali lagi. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Kau memang anak yang payah” ucap guru Tom pada Anna. “Tapi guru?”. “Pergilah! Cepat!” bentak guru Tom pada Anna sambil menunujuk pintu keluar gedung. Anna tak memperdulikan lagi ucapan komposer killer itu. Ia langsung melesat keluar. Hanya ibunya yang ia pikirkan sekarang. “Tuhan, jagalah ibuku” doa Anna dalam hati
            “Dimana ibuku dok?” tanya Anna pada dokter setibanya di rumah sakit. “Ibumu di ruang UGD. Tenanglah. Hanya kakinya yang terkilir dan tangannya terluka cukup serius. Tapi tak apa. Dia sudah sadar sekarang. Pergi dan lihatlah” jawab dokter itu. Tanpa berterimakasih, Anna langsung berlari sekencang mungkin untuk menjumpai ibunya. “Ya Tuhan, terimakasih” ucap Anna dalam hati.
            “Ibu” ucap Anna saat membuka pintu ruangan. Ia langsung memeluk ibunya yang sedang terbaring di ranjang busa itu. “Hey, kenapa kau bisa ada disini? Bagaimana dengan orkes simfonimu hari ini?” ucap ibunya. “Tak apa bu. Lupakanlah. Kesehatan ibu sekarang lebih penting” balas Anna. “Tapi itu kan orkes simfoni perdanamu? Maafkan ibu sayang sudah mengecewakanmu” ucap ibunya yang kini hampir meneteskan air mata. “Aku yang minta maaf bu. Aku sudah gagal untuk mempertunjukkan kerja kerasku selama ini pada ibu. Sudah banyak menghabiskan uang untuk latihan orkes. Tapi malah tidak jadi orkes simfoni. Maaf bu” balas Anna dengan matanya yang berkaca – kaca. “Hey, ibu tak butuh status atau pengakuan dari dunia kalau kau berhasil ikut dalam orkes simfoni. Jika memang cerdas, kau hanya membutuhkan konsep dan ilmunya saja untuk dipraktekkan dalam kehidupanmu. Hanya orang bodohlah yang putus asa saat ia tak mendapatkan status atau pengakuan dari orang lain untuk usahanya. Sudahlah. Kau bisa mencobanya lain kali” ibu Anna menyemangati. “Iya bu. Terimakasih” ucap Anna sambil tertunduk lesu. “Bu, sudah jam berapa ini? Kapan jadwal kedatangan penerbangan Ayah? Aku sudah tak sabar ingin menjemputnya di bandara” tanya Jihan pada ibunya. Mata Anna langsung tertuju pada Jihan. Ia melihat Jihan dengan tatapan sinis. “Diamlah Jihan. Kau hanya memperburuk suasana” ucap Anna pada Jihan. “Memangnya kenapa? Kakak ini aneh. Lihatlah kakak bu” balas Jihan. “Ayahmu tadi menelepon ibu. Dia ada tugas mendadak jadi tidak bisa. Jihan sudahlah. Lebaran nanti ayah pasti pulang sayang” ucap ibu. “Hah, sudah kuduga. Semudah itukah ibu percaya? Apakah ayah sekarang tahu kondisi ibu? Ah sudahlah. Aku bisa menjaga ibu seharian penuh disini. Bahkan tidak tidur pun tak apa. Jangan mengharapkan yang tak pasti bu” balas Anna dengan kesal. Ia pun langsung pergi keluar dari ruang UGD itu. “Kau tidak tahu Anna betapa rindunya ayahmu padamu. Betapa inginnya dia melihat orkes simfonimu hari ini. Betapa seringnya ia menanyakan keadaanmu dan Jihan di telepon. Kau tidak tahu karena kau tak mau berbicara padanya. Padahal ia sedang bekerja keras mengumpulkan uang untukmu di perbatasan negara kita disana. Kau tak tahu Anna” gumam ibu Anna dalam hati.
            “Aku heran. Mengapa ibu mudah sekali percaya pada Ayah. Padahal ayah mengatakannya hanya lewat telepon. Dan itu dia lakukan selama 17 tahun lamanya. Sebegitu setiakah ibu pada ayah? Mengapa mereka bisa tetap saling menjaga kepercayaan padahal terpisahkan oleh gunung yang tinggi dan luasnya samudra. Hah, lebay sekali kata – kataku ini. Menjijikkan. Tapi sejujurnya aku kagum pada mereka. Bisa saling percaya dan menjaga perasaan walau amat sangat jarang bertemu. Ibu begitu setia pada ayah. Semoga ayah begitu juga pada ibu. Amin” gumam Anna dalam hati sambil mengusap wajahnya.
***
            Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sudah 2 bulan setelah Anna gagal dalam orkes simfoni perdananya kemarin itu. Seperti biasa, Anna kembali bersekolah, kembali belajar dan sekarang ia mulai mengikuti bimbingan belajar. Ia tak ingin mengecewakan harapan besar ibunya untuknya. “Aku harus jadi ahli teknik perminyakan. Untukku, untuk ibu dan untuk Jihan” ucap Anna saat sedang melahap bekal makan siangnya di kelas. “Ayahmu jangan ketinggalan” tiba tiba saja La Vida menyahut sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Anna menoleh, “Kau rupanya. Kenapa kau bisa mendengar ucapanku tadi?”. “Tentu saja. Telingaku ini adalah telinga burung hantu yang bisa mendengar suara sepelan apapun” jawab La Vida. Anna memanyunkan bibirnya. “Kau sudah makan siang?” tanya Anna. “Sudah sudah. Cepat habiskan bekalmu. Oh iya, kenapa aku tak pernah melihatmu lagi di gedung Harmoni sejak kecelakaan ibumu kemarin?” La Vida balik bertanya. Anna meletakkan sendok makannya. “Itu karena guru Tom marah padaku. Sudahlah. Aku sangat jengkel rasanya bila ingat hari itu. Guru Tom benar – benar sangat keterlaluan. Tapi orkes simfoni kalian berhasil kan?” balas Anna. “Berhasil. Guru Tom memang benar – benar hebat. Pantas bila ia dikenal perfeksionis. Apa? Orkes simfoni kalian? Itu orkes simfonimu juga Anna. Kau tetap bagian dari orkes simfoni guru Tom. Kau jangan begitu. Bagaimana keadaan ibumu? Dia baik – baik saja kan?” tanya La Vida lagi. “Iya. Syukurlah dia tak apa – apa. Hanya kakinya yang terkilir” jawab Anna. “Sebenarnya hari ini aku membawa kabar baik untukmu. Kau tidak penasaran?” tanya La Vida sambil tersenyum. “Tidak. Aku tidak tetarik” balas Anna sambil memanyunkan bibirnya. “Dasar bocah tengik. Hey, ternyata kota kita akan kedatangan presiden bulan depan” ucap La Vida. “Apa hubungannya denganku?” tanya Anna sambil mengerutkan dahinya. La Vida menghela nafas panjang. “Kau ini. Kita akan menyambutnya dengan orkes simfoni karena kota kita trekenal sebagai kota dengan orkes simfoni terbaik nasional. Bahkan Addie M.S juga akan datang nanti untuk melihat orkes simfoni kita” jawab La Vida. Anna mengernyitkan dahi lagi, “Orkes simfoni kita? Aku masih tak mengerti Vida”. “Jadi begini, diantara semua para pemain biola, kaulah yang terbaik kata guru Tom. Lagipula kami kekurangan pemain karena kau dan Erwin kemarin itu keluar. Jadi guru Tom memintamu untuk ikut bergabung dalam orkes simfoninya lagi. Ayolah Anna, aku mohon. Ini kesempatan keduamu. Jujur saja sebenarnya aku tak ingin memberitahukan perihal kecelakaanm ibumu kemarin. Aku dongkol karena aku tak bisa orkes simfoni bersamamu hari itu. Ayolah Anna” ucap La Vida memelas. Anna terdiam. Mendengar guru Tom ia jadi teringat perkataan terakhir yang keluar dari bibir komposer killer itu. “Haruskah aku kembali ke hadapannya? Tapi ini kesemptan keduaku” gumam Anna dalam hati. “Anna, jangan diam saja. Guru Tom sudah menunggumu dari kemarin tapi kau tak pernah datang” tanya La Vida. “Baiklah. Aku akan datang. Kau tidak mempermainkanku kan?” balas Anna untuk meyakinkan. “Tentu. Pernahkah aku mempermainkanmu? Hey, kau mengambil keputusan yang tepat. Besok kita berangkat bersama. OK?” tanya La Vida sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Anna pun membalas dengan menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking La Vida. Semangat Anna kembali hidup. “Aku tak akan menyia - nyiakan kesempatan ini lagi. Tunggu aku guru Tom. Aku akan membuatmu bangga padaku. Ibu, Jihan, tunggu aku lagi. Kalian akan melihat pertunjukan hebatku nanti” gumam Anna dalam hati.
            Anna mengetuk pintu ruang kelas guru Tom. “Masuk” ucap guru Tom. Anna membuka pintu dan melangkah masuk. Anna masih gugup untuk berjumpa dengan guru Tom. “Selamat siang guru” sapa Anna pada guru Tom dengan wajah tertunduk. “Selamat siang. Lama tak melihat wajahmu. Kemana saja kau?” tanya guru Tom. “Aku ikut bimbingan belajar guru” jawab Anna. “Kau tahu kenapa kau ku suruh datang lagi kesini?” tanya guru Tom. Anna hanya menggeleng. “Karena aku membutuhkan pemain biola hebat sepertimu untuk bermain di orkes simfoniku. Jika kau masih teringat pada ucapanku hari itu, maka lupakanlah. Aku minta maaf. Jadi, maukah kau bermain biola untukku lagi?” tanya guru Tom. “Apa dia hari ini salah makan? Atau lupa memberi makan ayamnya?” gumam Anna dalam hati. “Iya guru. Aku juga minta maaf sudah mengecewakanmu” balas Anna sambil membungkukkan badannya. “Sudahlah. Kali ini jangan seperti itu lagi. Baiklah, kita akan memulai latihan hari ini. Bersungguh – sungguhlah karena kita mempersembahkan ini untuk presiden kita. Dan Addie M.S juga akan menyaksikan orkes kita. Aku menaruh harapan besar pada kalian semua. Karena mungkin ini adalah orkes simfoni terakhirku di kota ini dan terakhir kalinya melatih kalian disini sebelum kepergianku ke Italia untuk melanjutkan studi musikku. Jadi, aku mohon dengan segenap hati. Berikan aku kemampuan terhebat kalian, orkes simfoni terbaik. Ku kira cukup” ucap guru Tom sambil membungkukkan badan pada murid – muridnya. Seketika saja para muridnya seperti meleleh mendengar kata – kata dari komposer killer itu. Bagaimana tidak? Bila setiap hari mereka selalu dibentak – bentak olehnya, tapi hari ini dia malah membungkukkan badan di depan mereka semua. Bahkan Anna masih saja tetap terbodoh melihat tingkah guru gilanya itu. “Mungkin hari ini dia bertengkar dengan istrinya” gumam Anna lagi dalam hati.
            “Pada orkes simfoni kita nanti, kita akan membawakan 3 buah music klasik yaitu Dissonant String Quartet No. 19, K. 645, Piano Concerto in C major, K.503, dan Mozart A major Quartet, K.464. Jadi kita akan mempelajari music itu hari ini. Oh iya, aku menunjuk Anna sebagai Concert Master. Kau akan menjadi pemimpin biola senior, dan menerjemahkan lagu. Ayo, semangat murid – muridku” ucap guru Tom pada para muridnya sambil mengacungkan tangannya. Anna mengernyitkan dahinya lagi. Guru Tom mulai memimpin orkes simfoni mereka. Ya sebagai konduktor. “Anna, perhatikan baik – baik guru Tom saat memimpin kita dalam orkes simfoni. Perhatikan baik – baik” ucap La Vida. “Kenapa harus aku?” tanya Anna. “Emm, maksudku kita semua. Iya kita semua” jawab La Vida gugup. Anna terheran – heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
            Tak terasa, sudah sebulan lamanya mereka latihan. Dan kedatangan presiden pun tinggal 4 hari lagi. Anna dan La Vida semakin percaya diri. “Kita pasti bisa” bisik Anna pada La Vida. La Vida membalasnya dengan senyuman yang sungguh manis.
            “Ibu, Jihan, kali ini aku tak akan mengecewakan kalian lagi. Percayalah. Doakan aku ibu” ucap Anna saat akan berangkat ke gedung Harmoni. “Berjuanglah sayang. Kami akan mendoakanmu dan duduk paling depan nanti. Ibu sudah beli tiketnya. Hey, hebat sekali penampilanmu hari ini” balas ibu Anna sambil memuji Anna. Anna tersenyum, “Tentu bu. Anakmu ini memang hebat. Iyakan bu?”. “Pasti Anna. Berkonsentrasilah disana. Semangat sayang. Ibu mencintaimu” ucap ibunya. “Ya sudah, aku pergi dulu. La Vida sudah menunggu. Assalamu’alaikum ibu” ucap Anna sambil mencium tangan ibunya. “Wa’alaikumsalam” jawab ibunya sambil mengelus – elus kepala Anna. Anna dan La Vida pun mengayuh sepeda mereka. Kali ini Anna tidak cemberut seperti orkesnya yang gagal kemarin. Iya benar – benar percaya diri. “Aku pasti bisa. Bantu aku Tuhan” gumamnya dalam hati.
            Rombongan dan para staf presiden telah datang. Mobil – mobil mewah berjejer di halaman gedung Harmoni. Suasana sangat ramai, tapi tetap kondusif. Presiden dan rombongannya pun telah memasuki gedung. Paspampres presiden kali ini agak berbeda. Presiden bahkan menyuruh salah satu anggota TNI yang sedang bertugas di perbatasan Kalimantan dan Malaysia untuk mengawalnya. Para pemain orkes simfoni pun telah menaiki panggungg. Anna bisa melihat ibunya dan Jihan duduk di kursi paling depan dengan jelas. Ia tersenyum lebar. Lalu melambaikan tangannya pada mereka. Sungguh sangat bahagia suasana hati Anna hari ini.
            Setelah presiden membuka acara dan memberikan sambutan, maka giliran guru Tom memberikan sambutannya. Setelah guru Tom tiba di bagian penutup kata sambutannya, ia berkata, “Baiklah, selamat menikmati pertujukkan orkes simfoni dari kami yang akan dipimpin oleh Anna Az-Zahra”. Tepuk tangan para penonton sangat meriah. Mereka sangat antusias untuk melihat composer termuda itu. Anna mendengarnya tak percaya. Ia bingung dan bertanya pada La Vida, “Apa maksud guru Tom Vida?”. “Hey, cepat naik kesana. Jemput guru Tom. Dia telah menunggumu. Cepat!” balas La Vida. Anna yang masih bingung pun segera lari secepat kilat mengahampiri guru Tom. “Guru?” tanya Anna. “Iya Anna. Inikan impianmu. Sekarang pimpinlah teman – temanmu. Buktikan padaku kalau kau memang bisa diandalkan. Ayo cepat!” jawab guru Tom. Anna mengangguk dan segera naik ke panggungg tempat composer memimpin orkes simfoni.
            Anna menarik nafas panjang. “Bismillah” ucapnya dalam hati. Dan diapun mulai memimpin teman – temannya memainkan music klasik Dissonant String Quartet No. 19, K. 645, Piano Concerto in C major, K.503, dan Mozart A major Quartet, K.464. Ya, Anna memimpin dengan sangat hati – hati. Dia benar – benar menghayatinya. Pelan tapi pasti. Mungkin inilah alasan mengapa guru Tom menunjuknya sebagai Concert Master saat latihan. Anna tak pernah menyangkanya. Di panggung itu, Anna berdiri dengan hebatnya. Impiannya menjadi seperti Maestro Kim sekarang terwujud. La Vida pun meniup bass clarinetnya dengan sangat berkonsentrasi. “Ibu, itu kakak kan? Wah dia hebat sekali berdiri disitu” ucap Jihan pada ibunya. “Iya sayang. Kakakmu memang hebat. Kau juga harus seperti dia” balas ibunya sambil tersenyum.
            Pertunjukan pun selesai. Anna sukses membawakan 3 buah music klasik itu dengan baik. “Alhamdulillah, terimakasih Tuhan” ucapnya dalam hati. Bahkan presiden sampai tak berkedip melihat aksi Anna menjadi composer di orkes simfoni itu. Benar – benar menakjubkan. Saat permainan music berhenti, salah seorang anggota paspampres presiden berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk pertamakalinya. Anna menoleh. Dan selanjutnya diikuti oleh tepuk tangan penonton lain dan sangat meriah. Anna terus memperhatikan anggota paspampres berseragam TNI yang berdiri memberikannya tepuk tangan untuk pertamakalinya tadi. “Sepertinya aku pernah melihat orang itu” gumam Anna dalam hati. Guru Tom pun datang menghampiri Anna dan menepuk - nepuk pundak Anna. “Kau hebat Anna. Aku bangga padamu. Kini aku lega karena orkes simfoni terakhirku disni telah sukses kau bawakan. Terimakasih Anna” ucap guru Tom pada Anna. Anna hanya mengangguk karena tak sanggup berkata – kata lagi. Matanya sudah penuh dengan air yang sebentar lagi akan tumpah ke bawah. Ia masih tak percaya.
            “Anna! Kau, kau benar – benar terbaik! Aku mencintaimu!” teriak La Vida pada Anna. Anna pun berlari memeluk sahabatnya itu. “Ini bukan mimpi kan Vida?” tanya Anna. “Tentu saja bukan. Kau ku cubit mau?” balas La Vida. Mereka pun tertawa. “Sebentar, aku ingin menjumpai ibuku dan Jihan. Tunggu aku ya” ucap Anna. “OK. Akupun ingin menemui ibuku juga. Sampai jumpa di ruang kelas guru Tom ya” jawab La Vida. Anna pun mengangguk.
            Anna berlari ke kursi penonton untuk menjumpai ibunya dan Jihan. Saat sudah dekat, Anna menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan lamat – lamat sosok laki – laki berseragam TNI sedang bersama ibunya dan Jihan. Dia adalah orang yang berdiri pertamakali untuk memberinya tepuk tangan tadi. Tinggi tegap, kulit yang agak gelap dan rambut sampingnya yang sedikit beruban. Anna mencoba mengingat – ngingatnya. “Ayah” ucap Anna lirih dan seketika dia berlari menuju ayahnya. Ayahnya pun menjemputnya dan memeluknya. Tangis Anna langsung tumpah tak terbendung lagi. Ya itu adalah ayah Anna. Ayah yang selau dirindukan Anna walaupun Anna akan dongkol bila ada yang mengungkit – ungkit ayahnya. “Kau hebat Anna. Ayah bangga padamu. Maafkan ayah yang amat sangat jarang mendampingimu. Ayah tahu kalau kau sangat merindukan Ayah. Itu semua karena tugas ayah yang sangat berat, menjaga keamanan Negara di wilayah perbatasan. Sekali lagi maafkan ayah ya. Kau mau kan memaafkan ayah?” tanya ayah Anna. Anna hanya mengangguk. Ia tak bisa berkata kata lagi. “Kau berhasil Anna” ucap ibunya sambil tersenyum. “Kak, jangan lupa untuk mengajariku PR matematika di rumah nanti” ucap Jihan pada Anna. Anna langsung tertawa mendengarnya. “Biarkan kakakmu istirahat dulu. Biar ayah yang mengajarimu di rumah nanti” ucap Ayah Anna. Seketika mata Jihan, Anna dan ibunya terbelalak kaget mendengar ucapan ayah mereka barusan. Ayah mengernyitkan dahi, “Kenapa?” tanya ayah. Mereka pun tertawa. “Inilah simfoniku untuk ayah” gumam Anna dalam hati.
            Setelah acara selesai, Anna bergegas pergi ke ruang kelas guru Tom. Disana guru Tom,  La Vida dan yang lainnya telah menunggu. “Maaf guru. Aku terlambat” ucap Anna. “Jangan katakana maaf di hari bahagia ini. Cepat masuk” balas guru Tom. “Kalian semua hebat. Benar – benar hebat. Aku bangga pada kalian semua. Dan inilah perpisahan kita. Aku berharap kita dapat bertemu di lain waktu dan lain tempat yang lebih baik daripada ini. Maaf mungkin selama ini kalian tak suka dengan gayaku. Ya itu semua untuk kebaikan kalian juga kan. Baiklah, aku bukan pujangga yang pandai bersyair. Hanya ini kata perpisahan dariku. Dan ini ada sedikit kenang – kenangan dariku untuk kalian. Terimalah” begitulah kata – kata perpisahan dari guru Tom. Dan para muridnya pun menangis tak terkecuali Anna. Anna mendapatkan biola dari guru Tom dan sekarang biolanya ada 2. La Vida mendapat clarinet. Dan yang lain juga mendapat alat music untuk mereka masing – masing. Benar – benar mengharukan. Tak hanya itu, Anna bahkan mendapat piagam penghargaan dari presiden dan berhasil memecahkan rekor MURI sebagai composer termuda di Indonesia. Benar – benar suatu kebanggaan yang hebat.
            Setelah pertunjukan orkes simfoni itu, ayah Anna cuti lebih lama di rumah. Dan sejak saat itulah ayah Anna dipindah tugaskan ke daerah dekat kota Anna tinggal. “Kau tak lupa pada janjimu tentang cita – cita awalmu kan?” tanya ibu Anna saat mereka sedang makan malam. “Tentu ibu. Jangan khawatir. Aku akan berusaha untuk ibu, Jihan, juga ayah” jawab Anna. “Betul Anna. Kau harus mengejar cita citamu. Ayah akan mengusahakan semuanya. Insya Allah” ucap ayah Anna. “Makan malam kali ini sangat enak. Itu karena ada Ayah” Jihan pun tak mau kalah. Mereka semua pun tertawa.
            “Cie cie. Yang ayahnya sekarang tempat kerjanya dekat dengan rumah. Jangan cemberut lagi ya Anna” goda La Vida saat di kelas. “Kau ini” balas Anna sambil tersenyum.
            Tiga hari kemudian guru Tom pun terbang dari Jakarta menuju Roma. Anna dan para murid guru Tom ikut mengantar guru Tom ke bandara. “Kembalilah guru. Kami akan selalu merindukanmu” ucap Anna. “Ya harus. Walaupun ia sangat galak, tapi sebenarnya aku rindu padanya” sahut La Vida.
             Sejak saat itu Anna sering pergi ke gedung Harmoni untuk bermain biola pemberian guru Tom bersama La Vida dengan bass clarinetnya. Anna berhasil menjadi seperti Maestro Kim walau hanya sekali. Itu adalah sebuah simfoni yang hebat. Kau hebat Anna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar