Sebuah
Simfoni
Karya
Aulia Fadlilah
Hari itu, sang raja siang berada tepat di bawah
kepalanya. Bahkan mungkin bila sebuah telur diletakkan di atas kepalanya pasti
akan matang. Hari itu benar – benar panas. Dengan menggendong ransel besar yang
berisi buku – buku pelajarannya, Anna berjalan dari gerbang sekolahnya menuju
tempat parkir sepedanya. Anna yang bertubuh tinggi kurus menggendong ransel
besarnya hingga terlihat seperti membungkuk. Ya Tuhan lihatlah, persis seperti
kura kura ninja.
“Paman, ini uang parkirnya” Anna mengulurkan tangannya
dan memberikan uang logam Rp500,- pada paman tukang parkir. “Terimakasih nona”
jawab si paman. Anna pun menuntun sepedanya keluar dari area parkir. Dia lalu
menaikinya. Baru beberapa meter dia mengayuh sepedanya, tiba – tiba dia turun
dari sepedanya. Ada yang aneh dari sepedanya. Anna terkejut melihat ban
sepedanya yang tak berisi, sama seperti tubuhnya yang kurus tak berisi. “Yah,
kempes. Aduh, bagaimana ini?”. Dengan pasrah Anna menuntun sepedanya. Padahal
masih ada 400 meter jalan aspal lagi yang harus dilaluinya. Anna celingukkan.
Melihat kesana kemari. Matanya berputar – putar menacari sesuatu. Tidak ada
pompa atau bengkel sepeda apalagi malaikat penolong di sekitarnya. Sepi sekali.
Anna menghela nafas panjang. “Ya sudahlah” gumamya dalam hati.
“Assalamu’alaikum. Ibu, aku pulang” ucap Anna saat
memencet bel pintu gerbang rumahnya. “Wa’alaikumsalam. Kenapa cemberut begitu?”
tanya ibunya. Anna hanya diam. Ibunya pun langsung tahu saat melihat ban sepeda
Anna. “Ya sudah. Berikan sepedamu pada ibu, biar ibu bawakan ke bengkel.
Pergilah masuk. Ibu sudah siapkan makan siangmu di meja makan. Bekalmu hari ini
habis tidak?” tanya ibunya sambil memegang sepeda Anna. Anna hanya mengangguk.
Tanda bahwa bekalnya hari ini sudah habis dilahapnya di sekolah. Anna langsung
masuk ke rumahnya. Ibunya langsung pergi membawa sepeda Anna ke bengkel yang
letaknya lumayan jauh dari rumah.
“Kakak sudah pulang?
Kakak sudah sholat? Setelah makan siang kakak sibuk tidak? Kakak bisa
kan membantu PR matematikaku? Hey, wajah kakak aneh. Kenapa kakak diam saja?
Apa kakak sakit? Ya sudahlah. Sepertinya kakak lelah. Aku benar tidak?” Jihan
langsung menghujani kakaknya dengan beribu – ribu pertanyaan. Seperti penyidik
KPK yang sedang mengintrogasi para koruptor. Padahal saat itu Anna baru saja
menarik satu buah tali sepatu sebelah kirinya. “Jihan, bisa tidak kalau
mengerjakan PR-nya nanti malam saja. Sekalian belajar dengan kakak. Kakak mau
istirahat dulu” jawab Anna. “Emmm, baiklah. Tapi janji ya akan mengajariku?”
balas Jihan sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “OK” jawab Anna singkat
sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Jihan. Yes, gumam
Jihan dalam hati.
Anna menuju kamarnya. Jihan mengikutinya dari belakang
sambil membawakan tas Anna. Mungkin Anna lupa membawa tasnya. “Ya ampun, berat
sekali. Mungkin kelerengku ada di dalam sini. Pasti kakak menyembunyikannya
disini” ucap Jihan sambil membuka tas Anna. “Oh, tidak ada. Jadi diamana
sebenarnya kelerengku?” Jihan kecewa setelah membuka tas Anna.
Setelah sholat, Anna menuju meja makan. Tak lama ibunya
pun pulang. “Assalamu’alaikum” ucap ibunya. “Wa’alaikumsalam” jawab Jihan.
“Cepat sekali bu”. “Iya, tadi langsung diperbaiki oleh paman Dani. Kakakmu
mana?”. “Itu, sedang makan. Bu, wajah kakak aneh. Tidak seperti biasanya” Jihan
mengadu pada ibunya perihal kakaknya. “Kenapa?” tanya ibunya. “Entahlah.
Mungkin kakak sakit” jawab Jihan singkat. Ibunya langsung menghampiri Anna di
meja makan. “Anna, kau kenapa?” tanya ibu. “Ah, tidak bu. Tidak apa – apa. Ibu
sudah selesai. Cepat sekali. Maaf ya bu, sudah menyusahkan ibu. Sebenarnya aku
bisa membawa sendiri sepedanya ke bengkel. Maaf bu” jawab Anna. “Iya, tidak apa
– apa. Jadi kenapa kau sebenarnya?” ibunya kembali mengulang pertayaannya.
“Tidak bu, aku hanya kesal karena ban sepedaku kempes. Benar bu, memangnya apa
yang harus ku khawatirkan di dunia ini? Aku punya ibu yang sehat, adik yang
cerewet, dan ayah yang…” Anna tak melanjutkan kalimatnya. “Ada apa dengan
Ayah?” tanya ibunya. “Ayah yang sangat jarang bersama kita” jawab Anna ketus.
“Hey, ayahmu kan sedang bertugas disana. Lagipula beliau kan bekerja untukmu.
Kau ini kenapa?”. “Tidak bu. Ya sudahlah” jawab Anna singkat. Anna kembali
melanjutkan makan siangnya.
Selesai makan siang, Anna melanjutkan kebiasaannya.
Menonton drama korea. Kali ini berbeda. Jika biasanya Anna akan mengagumi para
aktor atau aktris drama koreanya, kali ini tidak. Dia justru mengagumi hal
lain. “Lihatlah mereka, benar – benar keren” ucap Anna saat menonton drama
korea itu.
Malam ini Anna tak seperti biasanya. Tak langsung
memejamkan matanya. Pertunjukkan yang ia lihat dalam drama korea itu telah
memenuhi isi kepalanya. Bahkan jarum pendek jam sudah melewati angka sebelas,
dia masih asyik memandangi langit – langit kamarnya. Mencoba berbicara dengan
cicak – cicak di dinding. “Kira – kira seperti apa susunannya ya? Aku harus
mencari tahu. Mungkin suatu hari nanti aku bisa seperti mereka. Bantu aku
Tuhan” gumam Anna dalam hati.
Hari ini masih sama seperti hari kemarin. Panas. Mungkin
kali ini tabung gas elpiji yang akan meledak berikutnya. Beruntung kepala Anna
terlindungi oleh jilbabnya. Benar – benar panas. Seperti biasa, setelah bel
pulang, Anna menuju tempat parkir sepedanya. Anna merogoh saku roknya, “Ini
uangnya paman”. “Terimakasih nona”, jawab paman si tukang parkir. Kali ini Anna
tidak langsung pulang ke rumah. Ada tempat yang harus ia singgahi terlebih
dahulu. Juga benda yang sedari kemarin terus mengganggu pikirannya, ia mungkin
akan mendapatkannya hari ini.
Anna mengayuh sepedanya menuju sebuah toko yang lumayan
jauh dari sekolahnya. Setelah sampai, Anna memperhatikan lamat – lamat toko itu.
Ia pun kembali merogoh saku roknya. “Kira – kira uangnya cukup tidak ya?” gumam
Anna. Ia pun melangkah memasuki toko tersebut. Matanya berputar – putar mencari
sesuatu dan setelah sekian lama akhirnya berhenti tepat di depan sebuah benda
yang dari semalam ia ceritakan pada langit – langit kamarnya. Ia pun langsung
membawanya ke kasir. “Paman, ini harganya berapa?” tanya Anna pada penjaga
kasir. “Itu harganya Rp 200.000,-. Ada yang mau dibeli lagi?”. Anna terdiam
sejenak. Kembali ia hitung uang dalam saku roknya. “Tidak, ini saja paman” Anna
memberikan uang sejumlah Rp 200.000,- pada penjaga kasir itu. “Terimakasih
nona. Datanglah kembali”. Anna hanya nyengir pada paman itu. “Sekarang uangku
sudah habis. Tapi untung saja cukup. Terimakasih Tuhan. Kau akan mengantarku
menuju panggung itu mulai sekarang. Setialah padaku. Buat aku menjadi seperti
Maestro Kim. Ok?” gumam Anna pada ‘mainan’ barunya itu. “Oh tidak, sudah jam 4
sekarang. Aku akan terlambat sampai rumah” Anna buru – buru menyambar sepedanya
dan mengayuhnya secepat kilat.
“Assalamu’alaikum. Ibu aku pulang” ucap Anna saat memencet
bel pintu gerbang rumahnya. “Wa’alaikumsalam. Hey, jam berapa ini? Kenapa baru
pulang? Kemana kau pergi tadi?” Ibunya langsung mengintrogasi Anna. “Ibu maaf.
Aku lupa memberitahu ibu. Ponsel ku mati karena low bat. Aku tadi pergi ke kota
sebentar”. “Untuk apa?”. “Ini, aku membeli biola” jawab Anna sambil
memperlihatkan biola yang barusan ia beli tadi. “Untuk apa benda ini kau beli?”
tanya ibunya bernada marah. “Ibu ku mohon. Dengarkan aku dulu. Apa ibu mau kita
berbicara disini. Lagipula aku belum shalat dan makan siang. Ku mohon ibu
jangan marah dulu. Biarkan aku masuk” Anna mencoba meyakinkan ibuya. Melihat
wajah putrinya, ibu Anna menjadi iba. Hah, tentu saja. “Ya sudah masuklah.
Makan lalu shalat. Setelah itu, jelaskan kembali pada ibu”. “Ibu terimakasih.
Aku mencintaimu” jawab Anna dengan wajah sumringah sambil mencium pipi ibunya.
Ibunya pun meleleh.
Setelah shalat dan makan siang, Anna bergegas menemui
ibunya yang sudah duduk menunggunya di sofa ruang keluarga. “Ibu, hidupakan
dulu TV nya”. “Haruskah?” tanya ibunya. “Iya tentu”. Ibunya pun menghidupkan
TV. “Bukan berita yang akan kita tonton bu” Anna langsung merebut remot TV yang
dipegang ibunya. “Hey, sebenarnya apa yang akan kau jelaskan?” Ibu Anna mulai
tak sabar. Anna pun mengganti channel TV-nya dengan serial drama korea yang
selalu ia tonton bersama ibunya setiap sore. “Ibu, coba lihat Maestro Kim. Dia
keren kan?” tanya Anna pada Ibunya. Ibunya mengernyitkan dahi. “Apanya yang
keren?” gumam ibunya. “Ibu jangan begitu. Lihat dulu. Mereka itu mengagumkan
kan?” tanya Anna sambil menunjuk – nunjuk TV nya. “Biasa saja” jawab ibunya
sambil memanyunkan bibir. “Ah, baiklah. Langsung saja kalau begitu. Jadi begini
bu…” Anna mulai sedikit kesal. Ia pun tampak gugup. “Biola ini ku beli karena
aku ingin menjadi seperti Maestro Kim”. Sontak saja mata ibunya mendadak
seperti akan jatuh ke lantai. “Tidak!” jawab ibunya bernada membentak. “Ayolah
bu. Ibu jangan khawatir. Aku janji aku akan tetap belajar serius dan masuk
perguruan tinggi negeri. Lalu menjadi Enginering Petroleum Expert. Aku janji
bu. Tapi kali ini, ini hanya obsesi sesaatku saja. Hanya sesaat. Bukan cita –
citaku yang sesunggunya. Ayolah bu, ku mohon” jelas Anna panjang lebar pada
ibunya sambil berlutut di bawah kaki ibunya. “Benar ini hanya sesaat?” tanya
ibunya. “Iya bu, aku janji” jawab Anna memelas. “Baiklah, kita lihat ke
depannya seperti apa”. “Benar bu? Yes!” jawab Anna sambil mengangkat tangan
kanannya ke atas. “Ibu tenang saja. Aku akan tetap fokus belajar. Oh iya bu,
mulai besok aku dan La Vida akan ke gedung Harmoni untuk memulai latihan. Ini
hanya sebentar bu, setelah itu aku akan focus belajar lagi untuk masuk PTN. Doakan
aku ya bu”. “Tentu”. Ibunya tersenyum sambil mengelus - elus kepala Anna. “Ibu
terimakasih. Aku mencintaimu”. Anna mencium pipi ibunya lagi. Ibunya pun
nyengir lagi.
***
“Anna!” La Vida melambaikan tangannya pada Anna. “Hey!
Tunggu aku!” balas Anna. “Kita jadi kan pergi ke gedung Harmoni?” tanya La
Vida. “Tentu sobat” jawab Anna sambil tersenyum pada sahabat karibnya itu.
Keduanya pun langsung mengayuh sepeda mereka menuju gedung Harmoni. Cukup dekat
dari sekolah mereka.
“Kita sudah sampai” ucap La Vida saat akan memarkirkan
sepedanya. “Wah, keren sekali ya. Aku belum pernah ke sini” ucap Anna saat
melihat gedung musikal itu. “Tentu saja. Banyak Maestro terkenal yang sudah
sangat sering melakukan orkes simfoni disini. Kira – kira siapa yang akan
menjadi komposer kita nanti ya?” tanya La Vida. “Umm, mungkin Addie MS” jawab
Anna seenaknya. “Hush, kau ini” balas La Vida. Mereka pun tertawa. Sesaat
kemudian mereka melangkah masuk ke gedung itu.
“Panggilan ditujukan kepada Anna Az-Zahra dan La Vida
Teresiana siswa dari SMU Taruna Nusantara agar segera memasuki ruangan Guru Tom
di lantai 4 nomor 28 sekarang juga. Terimakasih” sebuah pengumuman ditujukan
pada Anna dan La Vida. “Hey, nama kita sudah dipanggil. Ayo cepat naik!” ajak
La Vida. “OK” jawab Anna.
Mereka pun sampai di depan ruangan guru Tom. “Masuk” ucap
guru Tom. Mereka membuka pintu dan melangkah masuk. “Tidakkah kalian tahu
kalian berada dimana sekarang?” pertanyaan awal dari guru Tom untuk kedua
sahabat itu. “Iya guru” jawab mereka serempak. “Dimana?” tanya guru Tom
seperempat membentak. Anna tersentak kaget. Ya Tuhan lihatlah ekspresi
wajahnya, pucat seketika. “Tahukah kalian bahwa gedung ini adalah gedung
terhebat di kota ini? Gedung dimana para komposer ternama nasional sering mengadakan
orkes simfoni disini. Kalian tahu tidak?”. “Alien dari planet mana mahluk gila
ini?” gumam Anna dalam hati. “Iya guru kami tahu” jawab La Vida. “Hey, kau.
Kenapa kau hanya mematung disitu?” tanya guru Tom sambil menunjuk Anna yang
sudah sedari tadi sempurna membeku saat pertamakali melihat guru Tom. “I iya
guru. Maaf” jawab Anna dengan bibirnya yang gemetaran. “Aku tidak suka jika
terlalu sering mendengar kata maaf. Pertanda jika kau terlalu sering berbuat
kesalahan”. “Bu bukan begitu guru” jawab Anna yang sekarang hampir menangis.
“Ah sudahlah. Kalian hanya menghabis habiskan waktuku saja. Namamu!” tanya guru
Tom sambil menunjuk gadis berambut panjang yang dikepang dua di depannya itu.
“La Vida Teresiana guru” jawab La Vida. “Dan kau?” kini giliran Anna yang ia
tunjuk. “Anna Az-Zahra guru” jawab Anna. “Baikalah, kita mulai sekarang.
Keluarkan alat music kalian”. Guru Tom berjalan mendekati Anna. Anna keringat
dingin. “Coba kau mainkan biolamu” perintah guru Tom untuk Anna. Anna mulai
memainkan biolanya. Jika didengarkan, mungkin selaput gendang telinga kita akan
pecah. “Permainan biolamu sangat buruk. Kau perlu banyak latihan” ujar guru Tom.
“Iya guru” jawab Anna sambil menunduk. “Baiklah hari ini kita akan belajar
tentang music klasik untuk permulaannya. Siapa yang tak kenal dengan W.A
Mozart? Jika ada, silahkan angkat kaki dari kelas ini melalui jendela itu” guru
Tom memulai pelajaran sambil menunjuk ke luar jendela ruang kelasnya. Tentu
saja murid - muridnya itu tak terkecuali Anna dan La Vida bergidik sambil mengangkat
bahu mereka. Ya itulah guru Tom, sang komposer
killer. Sebuah babak baru telah dimulai. Berjalan menuju kehidupan Anna.
“Mahluk itu mengerikan sekali” ucap Anna saat
mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir. “Hey, sudahlah. Tak apa. Mungkin itu
hanya perkenalan dari guru Tom. Kau jangan begitu Anna. Fighting!” balas La
Vida untuk menyemangati Anna sambil mengacungkan tangannya ke atas. “Heemm”
Anna hanya menghela nafas sambil tertunduk.
Hari kedua latihan orkes simfoni. Kali ini Anna berbeda. Mungkin
ia sudah diberi jimat dari ibunya. “Kita lihat guru Tom” gumam Anna dalam hati.
“Kalian tahu tidak music klasik itu adalah music para
Aristokrat?” Guru Tom memulai pelajaran. “Siapa bilang?” gumam Anna dalam hati.
“Coba lihat, W.A Mozart, kalian tahu kan dia berasal dari keturunan bangsawan?
Tentu saja, sejarah tak akan pernah lupa padanya. Komposer terhebat di dunia
yang karya - karya musiknya amat sangat berpengaruh. Bahkan kalian bisa tanya
ibu kalian di rumah. Kalian bisa memiliki IQ yang tinggi, pandai dalam ilmu
eksakta itu pasti dikarenakan ibu kalian dulu saat mengandung kalian selalu
mendengarkan music klasik. Berterima kasihlah kalian pada Mozart” ucap guru Tom
menjelaskan. “Ya ampun, dia ini guru music atau guru sejarah?” gumam Anna. “Mozart
memang terkenal, komposer terhebat sepanjang sejarah dari barat. Tapi
kepintaranku bukan buah dari karya karya music klasiknya yang sangat misterius
itu. Padahal itu hanya mitos, yang membuatku pintar itu ya hanya ayat – ayat
Al-Qur’an yang tiap hari kudengar dan kubaca. Dasar bodoh. Ya Tuhan, kuatkan
aku menghadapi guru gila ini” doa Anna dalam hati.
“Kita sekarang akan memainkan music dari Mozart yaitu
Symphoni No. 41 in C Major K.551 Jupiter Menuetto Allegro 1. Tapi sebelumnya
aku akan membagi para pemain instrumentnya. Anna, ku kira kau bisa untuk biola.
Kau hanya perlu latihan lebih keras lagi. Ingat, jangan permalukan aku di atas
panggung nanti” guru Tom menunjuk Anna untuk bermain biola. Anna mengangguk
mantap. “Ya Tuhan, benarkah ini? Aku akan memainkan biola? Guru Tom
mempercayakannya padaku? Terimakasih Tuhan” gumam Anna dalam hati. Kali ini
banyak bunga bunga papaya berserakan di hatinya. “Terimakasih Guru!” ucap Anna
pada guru Tom. Guru Tom hanya mengangguk sambil tersenyum. “Oh, manisnya” gumam
Anna dalam hati. Ada sesuatu yang membius dirinya hari ini. Entahlah. La Vida
menyenggol tubuh Anna sambil nyengir. “Cie cie” bisik La Vida pada Anna.
“Diamlah” balas Anna. Wajahnya memerah. Mungkin ia lupa membalik telur
gorengnya di wajan.
“Assalamu’alaikum. Ibu aku pulang”. “Wa’alaikumsalam.
Hey, wajahmu aneh. Kenapa?” ibunya terheran heran melihat mimic muka Anna. “Ah.
Tidak apa – apa bu. Ibu tahu tidak? Aku terpilih untuk bermain biola di orkes
simfoni nanti” ucap Anna kegirangan. “Benarkah?” mata ibunya pun terbelalak.
“Iya bu. Ibu senang kan? Pokoknya nanti ibu dan Jihan harus melihat
pertunjukanku. Harus” ucap Anna sambil memegangi tangan ibunya. “Tentu sayang.
Ayahmu juga” balas ibunya sambil tersenyum. Tapi seketika mata Anna menjadi
sayu dari yang tadinya bola matanya hampir loncat dari kelopak matanya. Itu
karena ibunya menyebut ayahnya. “Sudahlah bu. Jangan pernah memaksa Ayah. Biarkan
dia untuk focus mengumpulkan dolar dolar itu. Aku tak apa. Ibu jangan terlalu
berharap” ucap Anna sambil menunduk. “Anna ibu mohon jangan begitu” ibunya memohon
pada Anna. “Jangan ganggu aku dulu bu. Aku lelah setelah seharian penuh latihan
untuk orkesku. Aku ingin istirahat dulu” Anna pergi begitu saja meninggalkan
ibunya yang masih terdiam di pintu gerbang.
Setelah sampai kamar, Anna langsung merebahkan tubuhnya
di tempat tidur busanya. “Huh, haruskah dia ikut? Cukup bagiku ibu dan Jihan
saja untuk melihat pertunjukanku di orkes simfoni nanti. Ayah oh ayah. Tidakkah
kau merindukanku? Cukupkah bagimu bertemu dengan anak dan istrimu hanya 2 kali
dalam setahun? Kau tahu betapa aku ingin sekali kau antar aku dan Jihan ke
sekolah tiap pagi? Mengambilkan raportku saat akhir semester. Pergi ke danau
bersama untuk mencari ikan. Tidakkah kau ingin bisa selalu mengantar ibu setiap
hari untuk pergi ke pasar? Tidakkah kau khawatir saat aku memasang regulator
kompor gas? Harusnya itu kau Ayah. Bukan aku” ucap Anna dalam hati.
Bulan ketiga latihan. Anna semakin mantap dengan
kemampuan bermain biolanya. Begitu juga La Vida. Ia juga semakin mantap akan
posisinya untuk memegang bass clarinet. Semakin hari semakin menegangkan saja.
Semakin dekat hari pertunjukan itu. Jantung Anna seperti siap akan meledak.
“Baiklah. Kita sudah 3 bulan berlatih. Dalam sejarahku melatih orkes simfoni,
kalianlah yang paling lama berlatih. Tapi tak apa. Justru semakin lama kalian
berlatih, maka akan semakin hebat kemampuan kalian. Ingat! Jangan pernah
permalukan aku nanti di panggung. Hari ini kita hanya akan gladi bersih.
Tinggal tujuh hari lagi dari sekarang. Itu bukan waktu yang lama. Jangan pernah
merasa minder apalagi sampai demam panggung. Itu akan meruntuhkan akal pikiran
kalian. Terutama kau Anna. Jangan pernah membawa urusan pribadimu ke atas
panggung nanti. Aku berharap besar padamu. Ingat itu baik – baik!” nasihat guru
Tom untuk muridnya, terutama pada Anna. “Aye aye Kapten!” jawab mereka serempak
dengan bahasa belanda asal jadi itu. Anna menghela nafas panjang. “Fighting!” ucapnya
dalam hati untuk menyemangati dirinya. “Anna, kita pasti bisa kan?” tanya La
Vida. “Tentu sobat. Guru Tom sudah sangat baik pada kita selama ini. Aku salah
besar padanya. Aku tak akan mengecewakan guru Tom. Juga untuk ibuku dan Jihan.
Tuhan bantu aku” balas Anna sambil berdoa. “Ayahmu juga Anna” La Vida
mengingatkan Anna. Anna hanya terdiam. Tertunduk dan termangu. Anna sangat kaku
akan semua hal tentang ayahnya. Berubahlah Anna.
Tujuh hari itu ternyata bukan waktu yang panjang. Jarum
jam menunjukkan pukul 2. Anna terbangun. Ia ke kamar mandi untuk berwudhu.
Tuhan, bantu aku. Mudahkanlah urusanku hari ini. Aku mohon. Ucap Anna sambil
duduk menengadahkan kedua tangannya di atas sajadah merahnya.
“Ibu, Jihan. Jangan lupa ya. Jangan terlambat. Doakan
aku!” ucap Anna saat duduk di meja makan untuk sarapan. “Pasti kak. Jihan dan
ibu nanti akan duduk paling depan untuk melihat wajah kakak agar terlihat
jelas. Ya kan bu? Oh iya bu. Ngomong ngomong Ayah nanti duduk di kursi nomor
berapa? Ayah akan duduk disamping kita kan? Ayah sudah punya tiketnya belum?
Kira kira jam berapa ayah akan sampai di gedung?” kebiasaan Jihan yang selalu
menghujani dengan beribu ribu pertanyaan bila bertanya. Dan seketika Anna
meletakkan sendok makannya. Selera makannya hilang terbang besama amarahnya
pada Ayahnya. “Ibu aku pergi duluan. Assalamu’alaikum” Anna pamitan pada ibunya
sambil mencium tangan ibunya. “Wa’alaikumsalam nak. Ibu selalu mendoakanmu.
Semangat sayang. Ibu mencintaimu” balas ibunya sembari beridiri untuk mengantar
Anna ke depan pintu gerbang rumah mereka. Anna pun mengayuh sepeda birunya.
Bukan senyum yang terukir di bibirnya. Hanya raut murung yang terlihat. “Datang
atau tak datang tak ada pengaruhnya untukku. Terserah, silahkan. Orkes simfoniku
bukanlah hal yang penting baginya. Masa bodoh!” gumam Anna dalam hati. Hatinya
telah diselimuti oleh berjuta juta kedongkolan dari ayahnya. Tetap semangat
Anna!
“Kau sudah siap?” tanya La Vida mengawali percakapan pagi
ini. “Tentu La Vida. Hey, seragam ini. Lihatlah. Sungguh keren!” balas Anna.
“Iya Anna. Inilah seragam yang kuidam idamkan selama ini. Hari ini kita
memakainya Anna! Benar – benar hebat bukan?” ucap La Vida kegirangan bukan
main. “Ya walaupun sekarang aku hanya bisa bermain biola. Tapi aku sangat
senang. Impianku sekarang terwujud untuk dapat ikut dalam orkes simfoni. Tapi
aku akan berjuang lagi untuk menjadi seperti Maestro Kim. Kau percaya kan?”
ucap Anna semangat. “Iya sobat. Aku percaya kau akan menjadi seperti Maestro
Kim. Menjadi komposer terkenal. Dan ayahmu akan menyaksikan kesuksesanmu nanti.
Percayalah Anna” balas La Vida. Lagi – lagi Anna menghela nafas panjang. “Kau
tak jauh beda dengan Jihan. Kalian sama - sama menyebalkan” gumam Anna dalam
hati.
Tepat pukul 9 pagi. Gedung Harmoni telah dipenuhi oleh
para penonton orkes simfoni. Orkes simfoni tahun ini berbeda dengan tahun –
tahun sebelumnya. Jika biasanya penonton akan datang melihat orkes simfoni
untuk mendapatkan setfikat dan undian berhadiah, maka tahun ini mereka datang
karena penasaran dengan sang komposer baru dari kota lain. Ialah Tom Hayward.
Sang komposer killer, manusia perfeksionis dan tidak mau mengalah. Ujian dari
Tuhan untuk Anna.
“Ingat pesanku. Jangan permalukan aku di panggung nanti.
Tetap tenang dan konsentrasi. Berjuanglah kalian semua murid – muridku” pesan
guru Tom untuk para murinya hari ini. “Aye – aye Kapten!” jawab mereka
serempak. Selang beberapa detik, mereka pun melangkah masuk atas panggung. Anna
berjalan bersama La Vida. La Vida menggenggam tangan Anna yang begitu dingin
dan basah karena keringat dingin. “Tenanglah Anna. Berkonsentrasilah” bisik La
Vida pada Anna. Anna hanya mengangguk.
“Aku tak percaya. Kita benar – benar di atas panggung ini
sekarang. Hebat Anna!” ucap La Vida pada Anna. Anna tidak merespon. Ia
celingukkan kesana kemari melihat ke arah kursi penonton. “Dimana Ibu dan
Jihan?” gumamnya dalam hati.
Tepuk tangan meriah dari para penonton memenuhi isi
gedung saat guru Tom berjalan menaiki panggung. Guru Tom dan para pemain orkes
simfoni berdiri lalu membungkuk untuk memberi hormat kepada para penonton.
Sebelum orkes simfoni dimulai, guru Tom memberi kata sambutan sebagai pembuka
acara. Tiba – tiba saja ponsel La Vida bergetar. Ada pesan masuk. Ia
membacanya. “La Vida, tolong beri tahu Anna bahwa ibunya kecelakaan hari ini.
Sekarang dirawat di rumah sakit. Terimakasih” begitulah bunyi pesan dari paman
La Vida itu. La Vida bingung. Ia tak tahu harus memberitahukan pada Anna atau
tidak. Anna pun tidak sengaja melihat La Vida yang sibuk dengan poselnya itu.
La Vida tak seperti biasanya jika berhadapan dengan ponsel. Ia terlihat gugup.
Anna pun mulai menaruh curiga. “Kenapa anak ini?” gumam Anna dalam hati. “Hey,
kau kenapa? Apa yang kau lihat di ponselmua itu?” tanya Anna. La Vida hanya
menggeleng. “Emm, tak apa Anna. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik –
baik saja” balas La Vida gugup. Anna bisa merasakan sesuatu yang aneh dari mata
La Vida. “Berikan ponselmu” ucap Anna. La Vida menggeleng. Anna pun
merampasnya. Seketika itu juga ia membaca pesan masuk dari paman La Vida tadi.
Bibir Anna yang tadinya masih terlihat merah, kini berubah pucat. Tangannya
basah dan keringat dingin membasahi seragam kebanggaanya itu. “Aduh, bagaimana
ini?” gumam La Vida dalam hati. Anna berdiri dari kursinya. Tapi tangan La Vida
manariknya. “Tenanglah Anna. Ibumu sudah ditangani oleh para medis. Duduklah
kembali” ucap La Vida. “Tidak, aku harus ke rumah sakit” jawab Anna. “Tapi kau
bisa dapat masalah dari guru Tom” balas La Vida. Beruntung guru Tom belum siap memberikan
kata sambutannya. “Aku tidak peduli. Akulah yang harus merawat ibuku. Bukan
orang lain!” jawab Anna sambil melepaskan tangan La Vida. “Anna, tunggu!”
teriak La Vida.
Anna bergegas menemui guru Tom. “Guru, maafkan aku. Ibuku
mendapat kecelakaan hari ini. Aku harus pergi melihatnya. Aku mohon, ijinkan
aku guru. Aku janji, setelah selesai aku akan kembali kesini” ucap Anna pada
guru Tom. Guru Tom terdiam sejenak. Menatap tajam bola mata memelas Anna.
“Pergilah” jawab guru Tom. “Terimakasih guru” balas Anna sambil tersenyum.
“Pergilah dan jangan kembali lagi. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Kau
memang anak yang payah” ucap guru Tom pada Anna. “Tapi guru?”. “Pergilah!
Cepat!” bentak guru Tom pada Anna sambil menunujuk pintu keluar gedung. Anna
tak memperdulikan lagi ucapan komposer killer itu. Ia langsung melesat keluar.
Hanya ibunya yang ia pikirkan sekarang. “Tuhan, jagalah ibuku” doa Anna dalam
hati
“Dimana ibuku dok?” tanya Anna pada dokter setibanya di
rumah sakit. “Ibumu di ruang UGD. Tenanglah. Hanya kakinya yang terkilir dan
tangannya terluka cukup serius. Tapi tak apa. Dia sudah sadar sekarang. Pergi
dan lihatlah” jawab dokter itu. Tanpa berterimakasih, Anna langsung berlari
sekencang mungkin untuk menjumpai ibunya. “Ya Tuhan, terimakasih” ucap Anna
dalam hati.
“Ibu” ucap Anna saat membuka pintu ruangan. Ia langsung
memeluk ibunya yang sedang terbaring di ranjang busa itu. “Hey, kenapa kau bisa
ada disini? Bagaimana dengan orkes simfonimu hari ini?” ucap ibunya. “Tak apa
bu. Lupakanlah. Kesehatan ibu sekarang lebih penting” balas Anna. “Tapi itu kan
orkes simfoni perdanamu? Maafkan ibu sayang sudah mengecewakanmu” ucap ibunya
yang kini hampir meneteskan air mata. “Aku yang minta maaf bu. Aku sudah gagal
untuk mempertunjukkan kerja kerasku selama ini pada ibu. Sudah banyak
menghabiskan uang untuk latihan orkes. Tapi malah tidak jadi orkes simfoni.
Maaf bu” balas Anna dengan matanya yang berkaca – kaca. “Hey, ibu tak butuh
status atau pengakuan dari dunia kalau kau berhasil ikut dalam orkes simfoni.
Jika memang cerdas, kau hanya membutuhkan konsep dan ilmunya saja untuk
dipraktekkan dalam kehidupanmu. Hanya orang bodohlah yang putus asa saat ia tak
mendapatkan status atau pengakuan dari orang lain untuk usahanya. Sudahlah. Kau
bisa mencobanya lain kali” ibu Anna menyemangati. “Iya bu. Terimakasih” ucap
Anna sambil tertunduk lesu. “Bu, sudah jam berapa ini? Kapan jadwal kedatangan
penerbangan Ayah? Aku sudah tak sabar ingin menjemputnya di bandara” tanya
Jihan pada ibunya. Mata Anna langsung tertuju pada Jihan. Ia melihat Jihan
dengan tatapan sinis. “Diamlah Jihan. Kau hanya memperburuk suasana” ucap Anna
pada Jihan. “Memangnya kenapa? Kakak ini aneh. Lihatlah kakak bu” balas Jihan.
“Ayahmu tadi menelepon ibu. Dia ada tugas mendadak jadi tidak bisa. Jihan
sudahlah. Lebaran nanti ayah pasti pulang sayang” ucap ibu. “Hah, sudah kuduga.
Semudah itukah ibu percaya? Apakah ayah sekarang tahu kondisi ibu? Ah sudahlah.
Aku bisa menjaga ibu seharian penuh disini. Bahkan tidak tidur pun tak apa.
Jangan mengharapkan yang tak pasti bu” balas Anna dengan kesal. Ia pun langsung
pergi keluar dari ruang UGD itu. “Kau tidak tahu Anna betapa rindunya ayahmu
padamu. Betapa inginnya dia melihat orkes simfonimu hari ini. Betapa seringnya
ia menanyakan keadaanmu dan Jihan di telepon. Kau tidak tahu karena kau tak mau
berbicara padanya. Padahal ia sedang bekerja keras mengumpulkan uang untukmu di
perbatasan negara kita disana. Kau tak tahu Anna” gumam ibu Anna dalam hati.
“Aku heran. Mengapa ibu mudah sekali percaya pada Ayah.
Padahal ayah mengatakannya hanya lewat telepon. Dan itu dia lakukan selama 17
tahun lamanya. Sebegitu setiakah ibu pada ayah? Mengapa mereka bisa tetap
saling menjaga kepercayaan padahal terpisahkan oleh gunung yang tinggi dan
luasnya samudra. Hah, lebay sekali kata – kataku ini. Menjijikkan. Tapi
sejujurnya aku kagum pada mereka. Bisa saling percaya dan menjaga perasaan
walau amat sangat jarang bertemu. Ibu begitu setia pada ayah. Semoga ayah
begitu juga pada ibu. Amin” gumam Anna dalam hati sambil mengusap wajahnya.
***
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sudah 2 bulan
setelah Anna gagal dalam orkes simfoni perdananya kemarin itu. Seperti biasa,
Anna kembali bersekolah, kembali belajar dan sekarang ia mulai mengikuti
bimbingan belajar. Ia tak ingin mengecewakan harapan besar ibunya untuknya.
“Aku harus jadi ahli teknik perminyakan. Untukku, untuk ibu dan untuk Jihan”
ucap Anna saat sedang melahap bekal makan siangnya di kelas. “Ayahmu jangan
ketinggalan” tiba tiba saja La Vida menyahut sambil menepuk pundak sahabatnya
itu. Anna menoleh, “Kau rupanya. Kenapa kau bisa mendengar ucapanku tadi?”. “Tentu
saja. Telingaku ini adalah telinga burung hantu yang bisa mendengar suara
sepelan apapun” jawab La Vida. Anna memanyunkan bibirnya. “Kau sudah makan
siang?” tanya Anna. “Sudah sudah. Cepat habiskan bekalmu. Oh iya, kenapa aku
tak pernah melihatmu lagi di gedung Harmoni sejak kecelakaan ibumu kemarin?” La
Vida balik bertanya. Anna meletakkan sendok makannya. “Itu karena guru Tom
marah padaku. Sudahlah. Aku sangat jengkel rasanya bila ingat hari itu. Guru
Tom benar – benar sangat keterlaluan. Tapi orkes simfoni kalian berhasil kan?”
balas Anna. “Berhasil. Guru Tom memang benar – benar hebat. Pantas bila ia
dikenal perfeksionis. Apa? Orkes simfoni kalian? Itu orkes simfonimu juga Anna.
Kau tetap bagian dari orkes simfoni guru Tom. Kau jangan begitu. Bagaimana
keadaan ibumu? Dia baik – baik saja kan?” tanya La Vida lagi. “Iya. Syukurlah
dia tak apa – apa. Hanya kakinya yang terkilir” jawab Anna. “Sebenarnya hari
ini aku membawa kabar baik untukmu. Kau tidak penasaran?” tanya La Vida sambil
tersenyum. “Tidak. Aku tidak tetarik” balas Anna sambil memanyunkan bibirnya.
“Dasar bocah tengik. Hey, ternyata kota kita akan kedatangan presiden bulan
depan” ucap La Vida. “Apa hubungannya denganku?” tanya Anna sambil mengerutkan
dahinya. La Vida menghela nafas panjang. “Kau ini. Kita akan menyambutnya
dengan orkes simfoni karena kota kita trekenal sebagai kota dengan orkes
simfoni terbaik nasional. Bahkan Addie M.S juga akan datang nanti untuk melihat
orkes simfoni kita” jawab La Vida. Anna mengernyitkan dahi lagi, “Orkes simfoni
kita? Aku masih tak mengerti Vida”. “Jadi begini, diantara semua para pemain
biola, kaulah yang terbaik kata guru Tom. Lagipula kami kekurangan pemain
karena kau dan Erwin kemarin itu keluar. Jadi guru Tom memintamu untuk ikut
bergabung dalam orkes simfoninya lagi. Ayolah Anna, aku mohon. Ini kesempatan
keduamu. Jujur saja sebenarnya aku tak ingin memberitahukan perihal kecelakaanm
ibumu kemarin. Aku dongkol karena aku tak bisa orkes simfoni bersamamu hari
itu. Ayolah Anna” ucap La Vida memelas. Anna terdiam. Mendengar guru Tom ia
jadi teringat perkataan terakhir yang keluar dari bibir komposer killer itu.
“Haruskah aku kembali ke hadapannya? Tapi ini kesemptan keduaku” gumam Anna
dalam hati. “Anna, jangan diam saja. Guru Tom sudah menunggumu dari kemarin
tapi kau tak pernah datang” tanya La Vida. “Baiklah. Aku akan datang. Kau tidak
mempermainkanku kan?” balas Anna untuk meyakinkan. “Tentu. Pernahkah aku
mempermainkanmu? Hey, kau mengambil keputusan yang tepat. Besok kita berangkat
bersama. OK?” tanya La Vida sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Anna pun
membalas dengan menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking La Vida.
Semangat Anna kembali hidup. “Aku tak akan menyia - nyiakan kesempatan ini
lagi. Tunggu aku guru Tom. Aku akan membuatmu bangga padaku. Ibu, Jihan, tunggu
aku lagi. Kalian akan melihat pertunjukan hebatku nanti” gumam Anna dalam hati.
Anna mengetuk pintu ruang kelas guru Tom. “Masuk” ucap
guru Tom. Anna membuka pintu dan melangkah masuk. Anna masih gugup untuk
berjumpa dengan guru Tom. “Selamat siang guru” sapa Anna pada guru Tom dengan
wajah tertunduk. “Selamat siang. Lama tak melihat wajahmu. Kemana saja kau?”
tanya guru Tom. “Aku ikut bimbingan belajar guru” jawab Anna. “Kau tahu kenapa
kau ku suruh datang lagi kesini?” tanya guru Tom. Anna hanya menggeleng.
“Karena aku membutuhkan pemain biola hebat sepertimu untuk bermain di orkes
simfoniku. Jika kau masih teringat pada ucapanku hari itu, maka lupakanlah. Aku
minta maaf. Jadi, maukah kau bermain biola untukku lagi?” tanya guru Tom. “Apa
dia hari ini salah makan? Atau lupa memberi makan ayamnya?” gumam Anna dalam
hati. “Iya guru. Aku juga minta maaf sudah mengecewakanmu” balas Anna sambil
membungkukkan badannya. “Sudahlah. Kali ini jangan seperti itu lagi. Baiklah,
kita akan memulai latihan hari ini. Bersungguh – sungguhlah karena kita
mempersembahkan ini untuk presiden kita. Dan Addie M.S juga akan menyaksikan
orkes kita. Aku menaruh harapan besar pada kalian semua. Karena mungkin ini
adalah orkes simfoni terakhirku di kota ini dan terakhir kalinya melatih kalian
disini sebelum kepergianku ke Italia untuk melanjutkan studi musikku. Jadi, aku
mohon dengan segenap hati. Berikan aku kemampuan terhebat kalian, orkes simfoni
terbaik. Ku kira cukup” ucap guru Tom sambil membungkukkan badan pada murid –
muridnya. Seketika saja para muridnya seperti meleleh mendengar kata – kata
dari komposer killer itu. Bagaimana tidak? Bila setiap hari mereka selalu
dibentak – bentak olehnya, tapi hari ini dia malah membungkukkan badan di depan
mereka semua. Bahkan Anna masih saja tetap terbodoh melihat tingkah guru
gilanya itu. “Mungkin hari ini dia bertengkar dengan istrinya” gumam Anna lagi
dalam hati.
“Pada orkes simfoni kita nanti, kita akan membawakan 3
buah music klasik yaitu Dissonant
String Quartet No. 19, K. 645, Piano Concerto in C major, K.503, dan Mozart A
major Quartet, K.464. Jadi kita akan mempelajari music itu hari ini. Oh iya,
aku menunjuk Anna sebagai Concert Master. Kau akan menjadi pemimpin biola
senior, dan menerjemahkan lagu. Ayo, semangat murid – muridku” ucap guru Tom
pada para muridnya sambil mengacungkan tangannya. Anna mengernyitkan dahinya
lagi. Guru Tom mulai memimpin orkes simfoni mereka. Ya sebagai konduktor.
“Anna, perhatikan baik – baik guru Tom saat memimpin kita dalam orkes simfoni.
Perhatikan baik – baik” ucap La Vida. “Kenapa harus aku?” tanya Anna. “Emm,
maksudku kita semua. Iya kita semua” jawab La Vida gugup. Anna terheran – heran
dengan kelakuan sahabatnya itu.
Tak terasa,
sudah sebulan lamanya mereka latihan. Dan kedatangan presiden pun tinggal 4
hari lagi. Anna dan La Vida semakin percaya diri. “Kita pasti bisa” bisik Anna
pada La Vida. La Vida membalasnya dengan senyuman yang sungguh manis.
“Ibu,
Jihan, kali ini aku tak akan mengecewakan kalian lagi. Percayalah. Doakan aku
ibu” ucap Anna saat akan berangkat ke gedung Harmoni. “Berjuanglah sayang. Kami
akan mendoakanmu dan duduk paling depan nanti. Ibu sudah beli tiketnya. Hey,
hebat sekali penampilanmu hari ini” balas ibu Anna sambil memuji Anna. Anna
tersenyum, “Tentu bu. Anakmu ini memang hebat. Iyakan bu?”. “Pasti Anna.
Berkonsentrasilah disana. Semangat sayang. Ibu mencintaimu” ucap ibunya. “Ya
sudah, aku pergi dulu. La Vida sudah menunggu. Assalamu’alaikum ibu” ucap Anna
sambil mencium tangan ibunya. “Wa’alaikumsalam” jawab ibunya sambil mengelus –
elus kepala Anna. Anna dan La Vida pun mengayuh sepeda mereka. Kali ini Anna
tidak cemberut seperti orkesnya yang gagal kemarin. Iya benar – benar percaya
diri. “Aku pasti bisa. Bantu aku Tuhan” gumamnya dalam hati.
Rombongan
dan para staf presiden telah datang. Mobil – mobil mewah berjejer di halaman
gedung Harmoni. Suasana sangat ramai, tapi tetap kondusif. Presiden dan
rombongannya pun telah memasuki gedung. Paspampres presiden kali ini agak
berbeda. Presiden bahkan menyuruh salah satu anggota TNI yang sedang bertugas
di perbatasan Kalimantan dan Malaysia untuk mengawalnya. Para pemain orkes
simfoni pun telah menaiki panggungg. Anna bisa melihat ibunya dan Jihan duduk
di kursi paling depan dengan jelas. Ia tersenyum lebar. Lalu melambaikan
tangannya pada mereka. Sungguh sangat bahagia suasana hati Anna hari ini.
Setelah
presiden membuka acara dan memberikan sambutan, maka giliran guru Tom
memberikan sambutannya. Setelah guru Tom tiba di bagian penutup kata sambutannya,
ia berkata, “Baiklah, selamat menikmati pertujukkan orkes simfoni dari kami
yang akan dipimpin oleh Anna Az-Zahra”. Tepuk tangan para penonton sangat
meriah. Mereka sangat antusias untuk melihat composer termuda itu. Anna
mendengarnya tak percaya. Ia bingung dan bertanya pada La Vida, “Apa maksud
guru Tom Vida?”. “Hey, cepat naik kesana. Jemput guru Tom. Dia telah
menunggumu. Cepat!” balas La Vida. Anna yang masih bingung pun segera lari
secepat kilat mengahampiri guru Tom. “Guru?” tanya Anna. “Iya Anna. Inikan
impianmu. Sekarang pimpinlah teman – temanmu. Buktikan padaku kalau kau memang
bisa diandalkan. Ayo cepat!” jawab guru Tom. Anna mengangguk dan segera naik ke
panggungg tempat composer memimpin orkes simfoni.
Anna
menarik nafas panjang. “Bismillah” ucapnya dalam hati. Dan diapun mulai
memimpin teman – temannya memainkan music klasik Dissonant String Quartet No.
19, K. 645, Piano Concerto in C major, K.503, dan Mozart A major Quartet, K.464.
Ya, Anna memimpin dengan sangat hati – hati. Dia benar – benar menghayatinya.
Pelan tapi pasti. Mungkin inilah alasan mengapa guru Tom menunjuknya sebagai
Concert Master saat latihan. Anna tak pernah menyangkanya. Di panggung itu,
Anna berdiri dengan hebatnya. Impiannya menjadi seperti Maestro Kim sekarang
terwujud. La Vida pun meniup bass clarinetnya dengan sangat berkonsentrasi.
“Ibu, itu kakak kan? Wah dia hebat sekali berdiri disitu” ucap Jihan pada
ibunya. “Iya sayang. Kakakmu memang hebat. Kau juga harus seperti dia” balas
ibunya sambil tersenyum.
Pertunjukan
pun selesai. Anna sukses membawakan 3 buah music klasik itu dengan baik. “Alhamdulillah,
terimakasih Tuhan” ucapnya dalam hati. Bahkan presiden sampai tak berkedip
melihat aksi Anna menjadi composer di orkes simfoni itu. Benar – benar menakjubkan.
Saat permainan music berhenti, salah seorang anggota paspampres presiden
berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk pertamakalinya. Anna menoleh. Dan
selanjutnya diikuti oleh tepuk tangan penonton lain dan sangat meriah. Anna
terus memperhatikan anggota paspampres berseragam TNI yang berdiri
memberikannya tepuk tangan untuk pertamakalinya tadi. “Sepertinya aku pernah
melihat orang itu” gumam Anna dalam hati. Guru Tom pun datang menghampiri Anna
dan menepuk - nepuk pundak Anna. “Kau hebat Anna. Aku bangga padamu. Kini aku
lega karena orkes simfoni terakhirku disni telah sukses kau bawakan.
Terimakasih Anna” ucap guru Tom pada Anna. Anna hanya mengangguk karena tak
sanggup berkata – kata lagi. Matanya sudah penuh dengan air yang sebentar lagi
akan tumpah ke bawah. Ia masih tak percaya.
“Anna! Kau,
kau benar – benar terbaik! Aku mencintaimu!” teriak La Vida pada Anna. Anna pun
berlari memeluk sahabatnya itu. “Ini bukan mimpi kan Vida?” tanya Anna. “Tentu
saja bukan. Kau ku cubit mau?” balas La Vida. Mereka pun tertawa. “Sebentar,
aku ingin menjumpai ibuku dan Jihan. Tunggu aku ya” ucap Anna. “OK. Akupun
ingin menemui ibuku juga. Sampai jumpa di ruang kelas guru Tom ya” jawab La
Vida. Anna pun mengangguk.
Anna
berlari ke kursi penonton untuk menjumpai ibunya dan Jihan. Saat sudah dekat,
Anna menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan lamat – lamat sosok laki – laki
berseragam TNI sedang bersama ibunya dan Jihan. Dia adalah orang yang berdiri
pertamakali untuk memberinya tepuk tangan tadi. Tinggi tegap, kulit yang agak
gelap dan rambut sampingnya yang sedikit beruban. Anna mencoba mengingat –
ngingatnya. “Ayah” ucap Anna lirih dan seketika dia berlari menuju ayahnya.
Ayahnya pun menjemputnya dan memeluknya. Tangis Anna langsung tumpah tak
terbendung lagi. Ya itu adalah ayah Anna. Ayah yang selau dirindukan Anna
walaupun Anna akan dongkol bila ada yang mengungkit – ungkit ayahnya. “Kau
hebat Anna. Ayah bangga padamu. Maafkan ayah yang amat sangat jarang
mendampingimu. Ayah tahu kalau kau sangat merindukan Ayah. Itu semua karena
tugas ayah yang sangat berat, menjaga keamanan Negara di wilayah perbatasan.
Sekali lagi maafkan ayah ya. Kau mau kan memaafkan ayah?” tanya ayah Anna. Anna
hanya mengangguk. Ia tak bisa berkata kata lagi. “Kau berhasil Anna” ucap
ibunya sambil tersenyum. “Kak, jangan lupa untuk mengajariku PR matematika di
rumah nanti” ucap Jihan pada Anna. Anna langsung tertawa mendengarnya. “Biarkan
kakakmu istirahat dulu. Biar ayah yang mengajarimu di rumah nanti” ucap Ayah
Anna. Seketika mata Jihan, Anna dan ibunya terbelalak kaget mendengar ucapan
ayah mereka barusan. Ayah mengernyitkan dahi, “Kenapa?” tanya ayah. Mereka pun
tertawa. “Inilah simfoniku untuk ayah” gumam Anna dalam hati.
Setelah
acara selesai, Anna bergegas pergi ke ruang kelas guru Tom. Disana guru
Tom, La Vida dan yang lainnya telah
menunggu. “Maaf guru. Aku terlambat” ucap Anna. “Jangan katakana maaf di hari
bahagia ini. Cepat masuk” balas guru Tom. “Kalian semua hebat. Benar – benar
hebat. Aku bangga pada kalian semua. Dan inilah perpisahan kita. Aku berharap
kita dapat bertemu di lain waktu dan lain tempat yang lebih baik daripada ini.
Maaf mungkin selama ini kalian tak suka dengan gayaku. Ya itu semua untuk
kebaikan kalian juga kan. Baiklah, aku bukan pujangga yang pandai bersyair. Hanya
ini kata perpisahan dariku. Dan ini ada sedikit kenang – kenangan dariku untuk
kalian. Terimalah” begitulah kata – kata perpisahan dari guru Tom. Dan para
muridnya pun menangis tak terkecuali Anna. Anna mendapatkan biola dari guru Tom
dan sekarang biolanya ada 2. La Vida mendapat clarinet. Dan yang lain juga
mendapat alat music untuk mereka masing – masing. Benar – benar mengharukan.
Tak hanya itu, Anna bahkan mendapat piagam penghargaan dari presiden dan
berhasil memecahkan rekor MURI sebagai composer termuda di Indonesia. Benar –
benar suatu kebanggaan yang hebat.
Setelah
pertunjukan orkes simfoni itu, ayah Anna cuti lebih lama di rumah. Dan sejak
saat itulah ayah Anna dipindah tugaskan ke daerah dekat kota Anna tinggal. “Kau
tak lupa pada janjimu tentang cita – cita awalmu kan?” tanya ibu Anna saat
mereka sedang makan malam. “Tentu ibu. Jangan khawatir. Aku akan berusaha untuk
ibu, Jihan, juga ayah” jawab Anna. “Betul Anna. Kau harus mengejar cita citamu.
Ayah akan mengusahakan semuanya. Insya Allah” ucap ayah Anna. “Makan malam kali
ini sangat enak. Itu karena ada Ayah” Jihan pun tak mau kalah. Mereka semua pun
tertawa.
“Cie cie. Yang
ayahnya sekarang tempat kerjanya dekat dengan rumah. Jangan cemberut lagi ya
Anna” goda La Vida saat di kelas. “Kau ini” balas Anna sambil tersenyum.
Tiga hari
kemudian guru Tom pun terbang dari Jakarta menuju Roma. Anna dan para murid
guru Tom ikut mengantar guru Tom ke bandara. “Kembalilah guru. Kami akan selalu
merindukanmu” ucap Anna. “Ya harus. Walaupun ia sangat galak, tapi sebenarnya
aku rindu padanya” sahut La Vida.
Sejak saat itu Anna sering pergi ke gedung
Harmoni untuk bermain biola pemberian guru Tom bersama La Vida dengan bass clarinetnya.
Anna berhasil menjadi seperti Maestro Kim walau hanya sekali. Itu adalah sebuah
simfoni yang hebat. Kau hebat Anna!